Wednesday, April 18, 2012

"apakah manusia masih mengerti tujuan hidup?"

Banyak sekali hal-hal kecil di sekitar kita yang tercerabut parameternya. Ukuran nilai jadi tidak jelas, baik, buruk, pantas atau tidak menjadi kabur. 

Selama beberapa jam dengan seorang teman, kami ngobrol panjang lebar mengenai ini. "Apakah manusia masih mengerti tujuan hidup?"

Pada masa kanak-kanak, dimana dirinya berada pada tahap awal belajar, disuapi dengan ukuran nilai yang makin meninggalkan kemanusiaannya. Tadinya yang dia mengerti, hidup adalah kasih sayang, cinta ibunya. Pintar dan bodoh, diukur dari kemampuannya menyenangkan hati orang tuanya. Lantas ketika dia masuk sekolah, semua dihancurkannya, pintar adalah mendapat angka 9 ketika ujian, bodoh adalah mendapat angka 5 di lembaran.

Konsep "saling bantu" pun jadi buyar, ketika orientasinya dijadikan transaksi materi. "Saya bantu kamu, asal...bla...bla...bla..." Itu melesat jauh dari kecenderungan pengajaran kasih sayang lewat cinta kasih orang tua. Transaksinya spiritual cinta dibalas patuh. Baiklah manusia memang "makhluk transaksional", tapi ada letaknya. Transaksi ekonomi materi ujungnya adalah laba tempatnya adalah niaga. Jujur.

Sedang prinsip transaksi spriritual adalah "serve to other" melupakan kepentingan diri, membahagiakan orang lain. Tidak lantas terbalik-balik, transaksi material untuk spiritual atau sebaliknya. akhirnya absurd. "Menolong adalah mendapatkan laba uang."

Akhirnya, sekolah menyeret seseorang justru untuk lebih jauh dari "mengenal dirinya" sebagai manusia. Mengajak pergi entah kemana. Kita kehilangan banyak sekali esensi pendidikan, tujuan awalnya adalah mendapat ilmu pengetahuan untuk menyusur sejumlah misteri. Jadi buram.

Tanda tanya besar seperti "Kenapa kita diciptakan?", "Siapa Tuhan?", "Untuk apa ada pencipataan?", dan pertanyaan mendasar lainnya, mulai dihindari. Bahkan, perbincangan tentang Tuhan-pun di sekolah tidak dibicarakan. Ya, karena Tuhan dianggap tidak bisa diverifikasi, dan tidak patut masuk.

Manusia lantas diukur dengan parameter hukum semata bukan lagi moral yang dibicarakan, padahal hukum adalah pagar terendah kehidupan. 

Saya sering bertanya kepada orang-orang: "Kamu berhenti di lampu merah, karena takut ditilang atau karena memperhatikan keselamatan orang lain?" Rata-rata jawabnya, karena takut ditilang, ya, karena hidup dianggap sebagai upaya "memperluas diri sendiri." Bukankah mengerikan? Hukum memberi pagar pada wilayah-wilayah terendah, dimana kejahatan manusia bisa dilakukan. Apakah tanda adanya pasal-pasal kamu tetap membunuh? Tentu semestinya tidak. Moral yang "built in" semakin dijauhkan dari obrolan tentang kenyataan. Dia berada duduk di sana, jauh.

Tak kurang-kurang ajaran agama memberikan petuah yang padat. Tapi mengapa kegelisahan juga makin memuncak? Menurut saya, tak lain karena tersingkirnya perspektif spiritual dari aktifitas kehidupan. agama dibangun sebagai ruang materi. Konsep "reward and punishment" yang ditulis pada kitab suci digambarkan benar-benar secara material. Unsur spiritualnya diganyang total.

Pahala adalah ketika kamu melakukan kebaikan lantas Tuhan membalasnya dengan kekayaan, uang, mobil dan bisnis berlaba. Dipelintir. Dosa secara stereotip disimbolkan dengan kemiskinan, kebangkrutan dan susahnya nafkah. Ini memprihatinkan sekali.

Maka konsep kesuksesan saat ini, tidak lebih dari, bagaimana mengumpulkan hal-hal yang seakan-akan spiritual menjadi material. Sukses adalah kaya, banyak uang, menginjak orang tak mengapa. Itupun masih bawa-bawa Tuhan, yang penting masuk surga. Duh...

Ini kecenderungan apa? Bukankah hal tersebut adalah "cara manusia menghancurkan dirinya sendiri?" Ditambah keblinger lagi, ketika nasehat menjadi industri. Bagaimana tidak lucu, masak menasehati orang harus bertarif? Sedekah dimatematikan. Jika menyumbang orang sekian rupiah maka mendapat imbalan sekian rupiah. Ini melayani diri sendiri atas nama Tuhan. Sementara pertanyaan mendasar, yang juga masih ditelusuri ilmu pengetahuan, masih belum terjawab. Saat itu kita makin jauh pula dengan esensi tujuan.

Suatu hari, seorang teman bertanya "Tuhan itu agamanya apa?", lho, saya ketawa ngakak mendengar ini. Lantas saya bilang "Ah, kamu pertanyaannya kurang keren, coba yang lebih "berani" lagi, misal "Kenapa penciptaan itu harus ada? Apa tujuannya?"" Beberapa memang suka "sok berani" bikin pertanyaan, tapi tidak penting-penting amat. Coba yang lebih mendasar lagi supaya lebih makjleb.

Saya bayangkan, jikalau kita semua tidak menghilangkan "semangat budaya luhur" dalam beberapa hal saja, mungkin keblingeran nilai tidak separah ini. Agama-agama yang masuk ke kepulauan ini mengajarkan nilai yang tidak jauh dari pemahaman spiritual lokal. Hanya beberapa perspektif dibenahi.

Yang islam berlomba-lomba menjadi arab. Melupakan bahwa islam itu kumpulan nilai yang dipadu dengan cara berpikir "nusantara". Padahal, darah-darah pelakunya adalah aliran yang dipenuhi oleh bibit spiritualitas dari sini. Bukan arab atau eropa. Bagaimana bisa klop?

Bacalah simbol-simbol budaya, bacalah tanda-tanda dalam kitab suci, gunakanlah akal. Bukan kemarahan, lihat betapa kita telah jauh dari tujuan.

Semoga, kita semua kembali ke pertanyaan mendasar meletakkan diri sebagai mana mestinya. Mendapat ukuran-ukuran nilai dari nurani. "Kenapa penciptaan itu ada?", "Dari mana kita berasal?", "Kemana kita menuju?" Itu pertanyaan intinya.

Hidup adalah melayani kepada yang dicintai. Bukan melayani diri sendiri. Demikian. Semoga ocehan ini tidak ditanggapi dengan kemarahan. Tapi perenungan.

Hidup adalah masalah penempatan. Mana yang utama mana yang sarana. Mana niat mana tujuan.



No comments:

Post a Comment

Post a Comment