Thursday, June 5, 2014

selamat menjalani hidup!


Soe Hok Gie bilang, “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah yang berumur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
Rasa-rasanya, bagi seorang filsuf Yunani itu dan seorang pemikir seperti Gie, hidup memang tak terlalu menarik. Hambar, penuh kepalsuan, dan cenderung membosankan. Gie mengatakan bahwa dia seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. “Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.” Begitu ia memimpikan sebuah hidup yang ideal.
Saya dan Anda tentu pernah dilanda kebosanan hidup maha dahsyat yang membuat kita ingin lekas-lekas menyudahi hidup di dunia ini. Tak apa, hal seperti itu wajar. Jangankan kita yang hidup biasa-biasa saja, bahkan seorang Kurt Cobain yang hidupnya begitu mentereng, bergelimang cinta, begitu dielu-elukan penggemar, dan dipuja-puji bak dewa pun mengalami kesunyian tak terpermanai yang bikin hidupnya tak ubahnya sebuah perjalanan menunda kekalahan semata, begitu kira-kira kata Chairil Anwar. Biar bagaimana pun Anda menunda-nunda mati, maut selalu mengintai. Kapan pun, di mana pun, dengan cara apa pun.
Maka ketimbang mati di usia tua, di mana semakin menua hidup akan lebih menyedihkan karena semakin sering kita menjadi saksi kematian-kematian orang tercinta, Kurt melalui surat kematiannya yang mengutip lirik lagu Neil Young berjudul My My, Hey Hey (Out of the Blue) mengatakan, ‘Lebih baik terbakar habis daripada memudar,’ ia pun memilih mati muda, sebagaimana Chairil yang oleh kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw, disebut-sebut menyadari dirinya akan mati muda, yang memilih mati muda dengan berlindung di balik frasenya yang sangat terkenal, ‘Sekali berarti sudah itu mati.’
Gie, Kurt, atau Chairil, punya kesamaan yang tegas. Sama-sama mati di usia muda. Sekitar 27 tahun. Selain mereka, kita tentu mengenal orang-orang hebat yang mati di usia tersebut. Ada Jimi Hendrix, gitaris yang disebut-sebut sebagai gitaris terbaik dalam sejarah musik dunia yang kematiannya menyisakan misteri, entah dibunuh, entah overdosis oleh sebab mengonsumsi obat-obatan terlarang untuk menghilangkan rasa depresinya. Lalu ada Brian Jones, salah satu pendiri grup band legendaris Rolling Stones yang dikenal dengan permainan gitar dan harmonikanya yang brilian, ditemukan tewas di kolam renang di kediamannya sebulan setelah ia dikeluarkan dari Rolling Stones. Penyebab kematiannya diyakini akibat penyalahgunaan obat terlarang secara berlebihan. Hati dan liver Jones membengkak akibat obat-obatan dan alkohol. Lalu ada Janis Joplin, si Ratu Rock and Roll yang mengakhiri hidupnya dengan mengonsumsi heroin berlebihan. Kemudian Jim Morrison, pendiri dan vokalis utama The Doors yang dikenal dengan improvisasinya dan puisi-puisinya yang kerap dibacakan di atas panggung, meninggal misterius dan saking misteriusnya sampai-sampai tim yang dipanggil untuk menyelidiki kematian Jim, melalui sertifikat kematian yang dikeluarkannya cuma menyimpulkan bahwa Jim mati lantaran jantungnya berhenti berdenyut. Sebuah kesimpulan yang tidak membantu apa pun. Toh semua orang mati pastilah jantungnya berhenti bekerja.
Chairil dan Gie adalah dua orang berpengaruh di Indonesia yang sama-sama meninggal menjelang usia ke 27. Tak ubahnya dengan Chairil yang melalui puisi-puisi kematiannya seperti puisi Jang Terampas Dan Jang Putus yang diidentifikasi sebagai sebuah keinginan mati muda, Gie yang meninggal dunia akibat menghirup gas beracun di gunung Semeru, sehari sebelum ulang tahunnya ke 27, pun sebenarnya menyadari bahwa dirinya akan mati muda. Tertuang jelas dalam catatannya ia mengatakan, “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya,” atau kebingungannya dalam melihat kehidupan yang ia tulis, “Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan … Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” atau saat ia mengakhiri salah satu puisinya dengan kalimat, “Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu.” Keduanya, Chairil dan Gie, memandang hidup sebagai sebuah batu loncatan yang tak perlu lama-lama dipijak, sebab sejatinya hidup di dunia ini fana belaka.
Kurt yang datang dari sebuah keluarga yang hampir sama seperti Chairil, yaitu dari keluarga yang orang tuanya bercerai, adalah yang paling naas. Ironis, ia mati di tengah-tengah karirnya yang sedang memuncak. Tak jua karir, tak pula anak dan istri, tak jua teman-teman, semuanya tak dapat menghindarkannya dari hasratnya yang memuncak untuk mengakhiri hidup. Kurt, yang oleh saudara perempuannya terungkap bahwa ketika masih anak-anak, pernah menyatakan ingin bergabung ke dalam Club 27, tewas tidak cuma oleh obat-obatan terlarang, tapi juga oleh sebuah senapan berburu berbobot berat yang melubangi langit-langit mulutnya. Ia mati kesepian di dalam ramai yang tak pernah ia bisa nikmati. Kematiannya pun ditangisi oleh berjuta-juta manusia yang menganggap Kurt sebagai pahlawan remaja pada saat itu, yang memujanya sebagai sebuah simbol pemberontakan, lambang anti-kemapanan.
Kecenderungan akan kematian Kurt juga terungkap pada sebuah percakapan dengan seorang temannya John Fields, di mana Kurt mengatakan bahwa ia ingin menjadi musisi terkenal dan kemudian mati bunuh diri di tengah kesohorannya. Dan benar, sebelum benar-benar tiba hari kematiannya, Kurt mengalami overdosis parah, dan ini merupakan usaha bunuh diri Kurt yang gagal. Dalam secarik kertas di genggamannya, Kurt menulis, “Dr. Baker bilang, aku harus memilih antara kehidupan atau kematian. Seperti Hamlet, aku memilih kematian.” Kabar kematian Kurt pun menyebar di kalangan media dan penggemar di seluruh dunia. CNN bahkan sempat memberitakan bahwa Kurt Cobain sudah tewas. Meski demikian, Kurt masih menuruti saran orang- orang terdekatnya untuk mengikuti program rehabilitasi.
Hamlet sendiri adalah sandiwara tragedi karya William Shakespeare. Seperti karya-karya tragedi lainnya milik Shakespeare macam Romeo dan Juliet, atau Troilus dan Cressida, cerita menyuguhkan kematian tragis sang tokoh utama.
Sebulan setelah peristiwa itu, hasrat untuk mengakhiri hidup tak terbendung lagi. Kurt ditemukan tewas oleh seorang tukang listrik yang menemukan tubuhnya di rumahnya di Lake Washington ketika si tukang listrik itu datang untuk melakukan pemasangan security system. Tukang listrik itu mengira Kurt sedang tidur sampai ia melihat sebuah senjata api berjenis Remington yang mengarah ke dagunya. Sebuah surat kematian berada bersamanya. Di sana, Kurt menulis;
“Karena ditulis oleh seorang tolol kelas berat yang jelas-jelas lebih pantas menjadi seorang pengeluh yang lemah dan kekanak-kanakan, surat ini seharusnya mudah dipahami. Semua peringatan dari pelajaran-pelajaran punk-rock selama bertahun-tahun. Setelah perkenalan pertamaku dengan, mungkin bisa dibilang, nilai-nilai yang terikat dengan kebebasan dan keberadaan komunitas kita ternyata terbukti sangat tepat. Sudah terlalu lama aku tidak lagi merasakan kesenangan dalam mendengarkan dan juga menciptakan lagu sama halnya seperti ketika aku membaca dan menulis. Tak bisa dilukiskan lagi betapa merasa bersalahnya aku atas hal-hal tersebut. Contohnya, sewaktu kita bersiap berada di belakang panggung dan lampu-lampu mulai dipadamkan dan penonton mulai berteriak histeris, hal itu tidak mempengaruhiku, layaknya Freddie Mercury, yang tampaknya menyukai, menikmati cinta dan pemujaan penonton. Sesuatu yang membuatku benar-benar kagum dan iri. Masalahnya, aku tak bisa membohongi kalian, semuanya saja. Itu tak adil bagiku atau pun kalian. Kejahatan terbesar yang pernah kulakukan adalah menipu kalian dengan memalsukan kenyataan dan berpura-pura bahwa aku 100 persen menikmati saat-saat di atas panggung. Kadang aku merasa bahwa aku harus dipaksa untuk naik ke panggung. Dan aku sudah mencoba sekuat tenaga untuk menghargai paksaan itu, sungguh, Tuhan percayalah kalau aku sungguh-sungguh melakukan itu, tapi ternyata itu tidak cukup. Aku menerima kenyataan bahwa aku dan kami telah mempengaruhi dan menghibur banyak orang. Tapi, aku hanya seorang narsis yang hanya menghargai sesuatu jika sesuatu itu sudah tidak ada lagi. Aku terlalu peka. Aku butuh sedikit rasa untuk bisa merasakan kembali kesenangan yang aku miliki saat kecil. Dalam tiga tur terakhir kami, aku mempunyai penghargaan yang lebih baik terhadap orang-orang. Saking cintanya, itu membuatku merasa sangat sedih. Aku adalah Jesus man, seorang Pisces yang lemah, peka, tidak tahu terima kasih, dan menyedihkan. Kenapa kamu tak menikmatinya saja? Tidak tahu. Aku punya istri yang bagaikan dewi yang berkeringat ambisi dan empati dan seorang putri yang mengingatkanku akan diriku sendiri di masa lalu. Penuh cinta dan selalu gembira, mencium siapa saja yang dia ditemui karena menurutnya semua orang baik dan tidak akan menyakitinya. Itu membuatku ketakutan sampai-sampai aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak bisa membayangkan Frances tumbuh menjadi rocker busuk yang suka menghancurkan diri sendiri dan menyedihkan seperti aku sekarang. Aku bisa menerimanya dengan baik, sangat baik, dan aku bersyukur, tapi aku telah mulai membenci semua orang sejak aku berumur tujuh tahun. Hanya karena mereka terlihat begitu mudah bergaul, dan berempati. Empati! Aku pikir itu disebabkan karena cinta dan perasaanku yang terlalu besar pada orang-orang. Dari dasar perut mualku yang serasa terbakar, aku ucapkan terima kasih atas surat dan perhatian kalian selama ini. Aku hanyalah seorang anak yang angin-anginan dan plin-plan! Sudah tidak ada semangat yang tersisa dalam diriku. Jadi ingatlah, lebih baik terbakar habis, daripada memudar.”
Kali ini Kurt Cobain benar-benar berhasil mewujudkan keinginannya. Tak ada yang bisa menyelamatkan nyawanya kali ini (dalam kasus orang bunuh diri, menyelamatkan nyawa orang tersebut saya kira tidak bisa disebut menyelamatkan, barangkali itu tindakan menjerumuskan dan memaksanya untuk tetap hidup). Ia tewas dan ditemukan beberapa hari setelah kematiannya. Dunia berkabung. Di Indonesia, kata teman saya, pada waktu itu sebuah koran menulis, ‘Kurt Cobain Bunuh Diri’, teman saya menerjemahkannya sebagai Kurt mencoba bunuh diri (lagi), maka ia tak percaya sampai benar-benar membaca isi berita itu. Ia pun berduka.
Saya dan Anda yang tidak terlalu tertarik hidup sampai menua, kalau tak mau dikatakan bosan dengan hidup, bolehlah mengambil sedikit pelajaran dari kisah hidup dan kematian dari Chairil, Gie, Kurt, dan lain-lain (saya tidak tahu kenapa kematian justru menginspirasi saya menulis ini). Hidup panjang memang terlihat membosankan, tapi ketahuilah, satu-satunya melawan kebosanan adalah dengan menjalaninya. Begitu pepatah Tiongkok mengatakan.
Anda yang sudah melewati usia 27, yang saya sebut usia keemasan, di mana kontemplasi, frustasi, depresi, perenungan, dan karut-marut pikiran berlomba-lomba membunuh si empunya usia, adalah orang yang berhasil melewati fase itu. Ada dua orang yang berhasil melewati usia keemasan itu. Yang pertama adalah yang menjalani hidup tertatih-tatih sampai berhasil mencapai dan melewati tahap itu. Yang kedua adalah yang tak pernah memikirkan hal ini. Keduanya sama saja berhasil mencapainya. Dan Anda yang belum melewatinya, teruslah berjalan, tidak perlu terlalu memikirkan tulisan saya ini. Tidak usah mencari-cari kesempurnaan yang akhirnya membawa kita pada keadaan sebaliknya, kecacatan. Tidak perlu mengikuti Kurt Cobain yang bilang lebih baik terbakar habis daripada memudar. Jalani hidup saja dengan menerima dan berserah. Jika Anda bisa tumbuh menua seraya membawa manfaat seperti Muhammad SAW, seperti Siddharta Gautama, seperti Newton, seperti Einstein, seperti Gus Dur, seperti Pram, seperti Mandela, seperti Gandhi, dan lain sebagainya, maka hidup seribu tahun lagi seperti apa yang Chairil Anwar bilang, siapa takut?
Selamat menjalani hidup. Happy Gajahilosophy Day and cheers!
Dewa KPHJ
Pernah Berusia 27


Sunday, April 20, 2014

lucu ketika hidup akan mengajarimu untuk jauh lebih sederhana



Hidup jauh lebih sederhana ketika kamu memakai sendal jepit dan bercelana pendek. Meminum teh perlahan. Menggigit kentang yang digoreng dengan kulit, menyikat gigi, keramas, duduk di pojok kafe favorit lalu membaca buku, membaca huruf-huruf: SEMUA DILAKUKAN LEBIH PELAN.

Saya tidak tahu definisi hidup sederhana itu seperti apa. Saya belum punya jawaban akhirnya. Yang saya rasakan akhir-akhir ini, saya menjalani hidup jauh lebih lambat dari sebelumnya. Lebih memilih untuk tersenyum, tidak mudah grumpy. Lebih banyak minum air putih. Kepinginnya tertawa lebih banyak. Menelepon ibu/bapak lebih sering. BBM/SMS dengan kakak kakak saya lebih sering. Menghabiskan waktu dengan istri dan si kecil. Dan oh, bangun lebih pagi!

Lucu, ketika hidup akan mengajarimu untuk jauh lebih sederhana: kamu tidak berhenti dengan setiap mimpimu, kamu terus bermimpi, dan mencapainya dengan cara-cara yang jauh lebih sederhana.

Saya punya bucket list, saya adalah orang yang bertahan hidup karena mimpi. Saya adalah apa yang saya inginkan. Tetapi akhir-akhir ini, ada sesuatu yang berubah di dalam diri saya. Saya merasa tidak terlalu ngoyo dengan semua itu. Semua bucket list saya berubah menjadi: apakah saya sudah melakukan yang terbaik untuk kesayangan? kesayangan saya adalah mereka yang saya sebut dengan keluarga.

Saya merasa terlalu egois, ketika hidup saya hanya mengejar apa yang menjadi idealisme saya dan melupakan kesayangan saya. Nah, ada saatnya saya berhenti sejenak lalu meng-evaluasi apa yang telah terjadi di dalam kehidupan saya. Saya hanya merasa jauh sebelum-sebelumnya hidup saya agak kurang sederhana.

Apa sih definisi hidup sederhana menurut kamu?

Wednesday, February 12, 2014

20 years from now...

~Pernah melihat quote ini, tapi bodohnya saya lupa dari siapa ini berasal~
20 years from now, you will be more disappointed by the things that you did not do than by the ones you did do. So throw off the bow lines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails, Explore, Dream, Discover!
Luar biasa bukan quote tersebut? Dan faktanya, banyak diantara kita yg mengalaminya. Saat itu semua terjadi, tak ada lagi yg mampu dilakukan selain menyesalinya dalam-dalam. Bahkan, dalam banyak kasus, sesal itu hanya untuk dirinya sendiri, dan tidak perlu di bagi untuk orang lain.
Secara pribadi, saya terhentak pertama kali baca quote tersebut. Saya dan Anda yg mungkin masih muda tentu memiliki impian yang menuntut untuk diwujudkan. Usaha dikerahkan agar impian itu terwujud. Semangat membara dan kadang membaja begitu keras saat mulai menentukan impian.
Seiring berjalannya waktu, kekuatan menggapai impian tersebut selalu mendapat cobaan akan konsistensinya. Kenyataan yg dihadapi seringkali meminta kita untuk lunak dan melakukan negosiasi dengan diri sendiri dengan berbagai alasan dan pengecualian. Tergerus oleh kejamnya waktu dan keadaan, kita secara sadar ataupun tidak, mulai ‘memaafkan’ alasan-alasan itu.
Berjalan dengan impian, bagi sebagian orang terlampau berat. Akhirnya beban berat itu perlahan mulai dikurangi dan hanya menyisakan beban ringan yg sanggup kita bawa dalam perjalanan hidup. Bagi sebagian lain yang konsisten dan mental membaja, impian tak pernah menjadi beban karena mereka menganggap itu sebagai bagian dari proses. Walau pada akhirnya mengorbankan sesuatu semisal pekerjaan dengan posisi enak, atau berkompromi dengan umur yg semakin menua.
Kehendak Tuhan seringkali jadi alasan. Padahal sudah jelas, yang Tuhan lakukan hanya menuntun kita pada apa yang kita paling inginkan. Tentunya mesti banyak pengorbanan dan kesungguhan. Kehendak Tuhan memang sudah jadi ketentuan, tapi hanya berlaku setelah usaha dan kesungguhan mewujudkan itu kita lakukan. Ironisnya, kita secara tidak sadar seringkali berlindung dari alasan ini, padahal belum apa-apa sudah menyerah.
Jadi, kita mau masuk kelompok yang mana, menyesal di kemudian hari atas apa yang tidak kita lakukan saat ini, atau tersenyum di hari esok karena kita merasa puas telah melakukan apa yang kita mau? Walaupun, dalam kenyataannya, sekeras dan sesungguh apapun kita, jika kehendak Tuhan lain atas kita. Setidaknya, kita bangga pernah mencobanya, bukan? Semua kembali pada kita masing-masing.

buang resahmu

Bagaimanalah mungkin pagi tanpa embun seperti keringku tanpa sentuhanmu. 
Bolehku simpan resahmu lalu kularungkan menuju laut.
Di sana, tempat paling rahasia pada semesta. 
Aku sanggup menahannya menguap, agar tak kau ingat dalam riuh dunia.
Maka, sungai penjuru dunia mengaburkannya, meletakkan di palung perutnya. 
Lepaskan khawatirmu, karena tak ada yang sanggup mengembalikannya.
Kutawarkan cahaya paling indah sebagai penawarmu, kuendapkan selama 7 hari. 
Berdoa malaikat bersama semesta agar kau tenang.
Lalu, kusimpan dalam cawan biru kesukaanmu. 
Reguklah kala wanginya masih terasa pada suatu pagi yang masih basah. 
Dan berdirilah menatap langit.

tak ada tuhan

Tak ada Tuhan di mimbar masjid yang sering kau datangi.
Tak kau temukan pula di deretan lilin atau gema lonceng gereja.
Jangan kau kira dia berumah di vihara atau klenteng berbau dupa.
Tapi, jangan berharap Dia bersantai di pura paling indah di tepi laut.
Dia tak berumah di sana.
Mungkin saja merasa sesak
Lalu muntah di halamannya.
Ambil langkah sejenak.
Dia mendekap anak jalanan yang tadi malam menggigil tidur beralaskan kardus.
Dia ada di tangan pengemis renta yang mengadah lagi berkusta di trotoar yang kau tak peduli.
Dia bernyanyi bersama anak-anak yatim di gubuk reot tempat syukur yang tak pernah kau dengar.
Dia menguntit PSK yang menjajakan diri di gang-gang sempit ditontoni tikus busuk.
Tak ada Tuhan di rumah ibadah.
Tidak pada corong pengeras suara masjid atau kidung pujian di gereja.
Dia tak lagi ada di tasbih atau rosario.
Dia bosan dengan sebutan yang beda-beda untuknya.
Dia jerih namanya hanya dipakai politik kotor.
Dia marah pada nafsu orang yang membunuh atas namanya.
Dia teriak dan orang bodoh tetap memuja kedunguan mereka.
Jangan Tuan cari Tuhan di rumah ibadah.
Tadi malam, Dia telah pindah.

kado terindah


Hening seketika tercipta, detik seakan berjalan lambat sekali. Penantian ini bukan sehari, seminggu ataupun sebulan dua bulan. Namun sembilan bulan dengan upaya yang tiada reda. Bukan terpaksa ataupun upah duniawi, namun cintalah yang membuatnya kuat. Cinta seorang ibu, yang membopong sebuah "hadiah dari Tuhan". Kemanapun berjalan, dan kaki yang membengkak itupun dipaksanya melangkah. Hingga pada saat ini, keheningan-pun terbuncah. Dera tangis bayi, dera tangis bahagia orang-orang yang terkasih. Dan senyum bahagia sang ibu, meski menahan sakit, di sudut ruangan.


Kemarin pada tanggal 10 Februari 2014 sekitar pukul 04:30 keheningan terhenyak dengan sedikit kepanikan istri saya yang melihat air ketubannya telah pecah, kemudian kami bergegas meluncur ke rumah sakit meski belum mandi bahkan cuci muka sekalipun. Sesampainya di rumah sakit kami memasuki ruang IGD dan diterima dengan baik oleh suster jaga dan langsung memasuki ruang perawatan sementara. Suster-suster yang lainpun segera mempersiapkan alat-alat pendeteksi kelahiran sebagai bahan observasi apakah tindakan yang akan dilakukan selanjutnya sembari menunggu kehadiran dokter kami. Pukul 07:30, dokter kandungan kamipun datang dan segera melakukan diagnosa dan melakukan usg kepada istri saya, dan tanpa berbasa-basi dokter menyarankan untuk segera mengambil tindakan seksio/caesar karena air ketuban sudah menunjukkan kekeringan. 

08:34, istri saya, Desak Made Nurmartini telah melahirkan seorang bayi laki-laki di rumah sakit Omni International, Alam Sutera secara caesar/seksio, dimana awal rencana keinginan saya menyamakan dengan tanggal kelahiran saya 12 Februari tapi menurut orang tua tidak boleh berbarengan lahiran dengan ayahnya kemudian diputuskan untuk memundurkan tanggal menjadi 14 Februari. Namun waktu berkata lain dan subuh itulah menjadi saksi kebisuan dan keheningan alam akan kelahiran putra pertama kami dengan berat 3,02 kilogram dan panjang 45 centimeter, bayi yang gantengnya mirip saya (hehehe...) itu lalu diberi nama "Dewa Gede Kalyan Vijaya". Yang memiliki makna "semoga menjadi putra yang 'unggul (vijaya (sanskrit: victory)' dalam hal kesejahteraannya, ketampanannya, keberuntungannya, nasib baiknya dan kebahagiannya kelak (kalyan (sanskrit: welfare, lovely, auspicious, good fortune & happiness). Panggilannya "baby kal".



Senang rasanya mendengar semua proses berjalan dengan lancar, walaupun kelahirannya maju beberapa hari dari perkiraan dokter. Manusia mungkin bisa memprediksi, namun Tuhanlah yang menentukan. Ah yang penting semua baik baik, ibu dan anaknya sehat. Ini adalah kado terindah yang saya dapatkan, dua hari menjelang hari ulang tahun saya yang ke-39. Semoga keindahan ini juga memberi keindahan dan kebahagiaan semua orang-orang di sekitar kami yang turut merasakan dan mendoakan atas kelahiran putra pertama kami dan hari lahir saya sekaligus. Kebahagiaan yang berlipat ganda.



Oiya, ini penampakan baby Kal. Gantengnya mirip saya kan? Hehehe....

baby kal after delivered

Friday, December 6, 2013

Rumput di Halamanmu akan Hijau pada Waktunya

Pernah nggak sih ada pertanyaan ini di kepalamu “ih enak ya kayak si A, kerjaannya jalan-jalan terus” atau “duh si B  tuh lagi asik banget ya di kantor banyak dapet promosi ini itu” atau keluhan tiap malam minggu yang sering sekali keluar dari diri kita, ketika kita melihat orang lain berpasangan.

Pertanyaan-pertanyaan ini keluar karena kehidupan orang lain “kelihatannya” lebih menarik ketimbang kehidupan kita sendiri. Padahal kita tidak pernah tahu bahwa jika kita berpikir sebaliknya, jangan-jangan orang lain itu justru sebenarnya iri dengan kehidupan kita. Jangan-jangan orang lain yang kita pikir “keren” itu sebenarnya ingin bertukar posisi dengan kehidupan kita.

Saya sering sekali mendapat komentar dari orang lain seperti ini “ Wa, enak banget sih hidup lo. Kerjannya jalan jalan mulu. Dapet duit lagi!” atau “Enak banget sih hidup lo, bisa maksimalin apa yang lo punya, dan dapet hidup dari sana.”

Saya suka senyum-senyum saja jika ada yang komentar seperti itu. Karena begitulah kenyataannya. Kehidupan yang sudah lama saya bayangkan sejak saya masih di sekolah menengah pertama, semua terjadi ketika saya dewasa. Ketika masih sekolah dulu, saya memang tidak pernah membayangkan akan bekerja kantoran dalam jangka waktu yang lama. Dan saya selalu membayangkan ketika saya sudah menikah nanti, saya akan jadi Ayah sekaligus sahabat kepada anak-anak saya.

Oke, saya sekarang bersiap menjadi seorang Ayah. Tapi ketika kembali ke dunia pekerjaan dan apa yang sekarang sedang saya kerjakan, saya merenung bahwa:

“Seringkali kita iri dengan keberadaan orang lain hingga kita lupa pada hal kecil yang kita punya yang bisa dikelola untuk menjadi sesuatu yang besar suatu hari nanti.”

Saya dibesarkan dengan segala keterbatasan. Ayah dan Ibu saya bukan orangtua yang berada. Tetapi mereka membesarkan saya dengan ketiga kakak dan satu adik saya dengan fokus kepada hal-hal kecil yang kami punya. Sejak kecil Ibu membiasakan saya untuk “tampil” bersahaja dan apa adanya  di depan banyak orang. Ternyata setelah saya dewasa, saya tumbuh menjadi orang yang humble ketika ada di depan banyak orang.

Dan Ayah selalu berulang kali mengingatkan anak-anaknya untuk rajin membaca. Dan tanpa disadari, membaca inilah yang pada akahirnya membuat saya belajar banyak hal.

Dari semua yang saya bicarakan, saya hanya mau bilang bahwa: suatu saat waktumu akan datang. Bersiaplah. Karena rumput di halamanmu akan hijau tepat pada waktunya! Jangan pernah berpikir bahwa hidupmu tidak menarik. Fokus kepada hal kecil yang kamu sukai dan buatlah hidupmu untuk menjadi menarik.

Jangan pernah berpikir bahwa, bagaimana jika saya bisa meminjam hidup orang lain, tetapi berpikirlah bahwa bagaimana saya harus menjalani hidup saya sendiri dengan menarik, sehingga suatu hari nanti orang akan datang kepadamu dan bilang “boleh nggak ya, gue pinjam hidupmu sesekali!”