Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Monday, December 3, 2012

catatan pendek

hari ini, meragulah. begitu katamu.
".. dan biarkan ia meyakinkanmu."
lalu bila telinga mendengar bisikan tak terduga,
semua terjadi atas izin semesta.

hari ini, bertanyalah. begitu katamu.
".. dan biarkan ia menjawabmu."
lalu bila ada hati yang merasa,
ingatlah ada Dia, Yang Maha Membolakbalikkan.

hari ini, berjalanlah. begitu katamu.
".. dan biarkan jejakjejak menjadi sejarah."
sebab apa yang telah tertulis,
menjadi pelajaran untuk yang lapang hati.

hari ini, berdoalah. begitu katamu.
".. dan biarkan langit menguntai harapmu."
sebab tak ada doa yang tak sampai,
pun tak ada rencana besar yang kautahu.

dan untuk catatan pendek yang tak henti darimu, teman,
kuyakini itu adalah sebuah doa kebahagiaan yang tulus.

semoga semesta mengamini.


[]

Tuesday, July 31, 2012

pengeluh.mengeluh.keluhan



Coba tengok di sekitar kita. Berapa banyak dalam sehari orangorang mengeluh? Dengan sok bijaknya lalu berdalih, itu bukan keluhan melainkan hanya berbagi cerita. Haha, whatever! Why do people complain too often? Kenapa manusia cenderung suka mengeluh?

Saya bukan manusia sempurna. Bukan lebih baik dari orang lain. Saya juga suka mengeluh, bercerita penuh peluh. Menuntut ini dan itu ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang saya mau. Tetapi, setahun belakangan ini saya banyak belajar. Belajar untuk lebih menerima maupun melepaskan. Bahwa ternyata mengeluh tidak lantas menyelesaikan masalah.

Pernahkah kamu ada di keadaan lelah melihat orang lain terlalu sering mengeluh? Hatihati, bisa jadi orang lain juga lelah dengan kita yang terlampau banyak mengeluh =).

Bukan berarti saya menganut aliran “keep positive”. Saya lebih setuju dengan membiarkan hal negatif itu mengalir, tidak memasungnya atau dipaksa bertukar tempat dengan positif. Keduanya sebaiknya mengalir pada porsinya. Tanpa solusi karbitan. Biarkan keduanya tumbuh dengan sehat, tanpa berlebihan.

Terlalu sering mengeluh, pada akhirnya membuat kita mati rasa. Bayangkan, jika untuk hal tertentu, skala keluhan kita adalah 1. Ketika muncul hal lain, skala keluhan kita meningkat jadi 2. Semakin banyak hal yang tidak menyenangkan, akan terus menambah skala keluhan. Maka pada titik tertentu, kita mati rasa terhadap keluhan.

Keluhan biasanya muncul karena adanya stimulus dari luar. Situasi yang tidak mengenakkan, orang lain yang tidak pernah mengerti, rencana yang berjalan tidak tepat, dan sebagainya. Halhal semacam itu membuat kita lupa bercermin. Mungkin saja, sebenarnya faktor di atas disebabkan oleh diri kita sendiri. Kita tidak pernah tahu.

Ada baiknya, sebelum mengeluh, kita senantiasa ingat untuk bersyukur. (jangan lupa ingatkan saya juga)

Thursday, July 26, 2012

detik detak

Lagi, ini cerita soal detik.

Detik memburuku. 

Kadang berkecepatan tinggi, membuatku harus berlari. 

Kadang berjalan pelan, membuatku santai menikmati pemandangan.

Kalau lagi manis, detik memelukku dari belakang. 

Rasanya hangat. Ia melingkarkan detaknya di bahuku. Lembut.

Tapi pernah, detik mengejarku tergesa. 

Kau tau kan rasanya dikejar dr belakang? Degdegan. 

Kau tak pernah tau kapan ia akan menikammu.

Maka kuputuskan, untuk berlari atau berjalan mundur ke depan. 

Tidak membelakangi detik. 

Supaya aku bisa lebih mengawasi geraknya.

.:

Wednesday, July 25, 2012

luar biasa

Saya percaya bahwa cinta itu ada, tapi sempat skeptis mengenai adanya konsep soulmate dan semacamnya. Ah tapi kata orang, ngga boleh sesumbar, mungkin si soulmate sedang dalam perjalanannya menuju saya. Sejujurnya, saya paling ngga suka menunggu. Tapi entah kenapa, untuk satu orang itu saya punya cadangan toleransi waktu tak terhingga. Satu orang itu adalah dia, yang masih disembunyikan Tuhan dalam tanganNya. Mungkin tangan kiri atau tangan kanan, saya tidak pernah tau pasti.

Kalau nanti dia membaca tulisan ini, pasti dia menilai saya terlalu sentimentil atau apa. Setidaknya dia tau, dia istimewa. Saya tidak tau, apakah dia berkacamata, berbadan tidak terlalu kurus, berambut cepak, atau akan seperti apa. Terserah. Bisa dibilang, saya mati terhadap segala kriteria rupa.
Tapi, seringkali terbayang, dia adalah sosok menyenangkan, yang tidak pernah kehabisan cerita untuk dibagi. Mendatangi saya dengan mata berbinar, antusias membicarakan mimpi, ide, dan rencananya. Membuat saya betah duduk berlamalama. Dia bisa menjawab semua pertanyaan berdasar logika. Saya membayangkan, ketika bersama dia, maka bosan itu tidak pernah ada. Dia selalu berhasil membuat saya tertawa. Saya juga membayangkan, dia jago sekali memainkan alat musik dan senang mengabadikan momen melalui kameranya. Dengan caranya, dia selalu bisa meyakinkan saya yang sering tidak yakin pada diri sendiri. Singkat kata, saya penggemarnya nomor satu.

Sebentar, saya menarik nafas sejenak sambil menuliskan ini. Bertemu saja belum, tapi sudah berekspektasi berlebihan.

Menyadari, saya bukanlah sosok menyenangkan, memiliki begitu banyak kekurangan, lalu mengapa menuntutnya kesempurnaan? Gaya bercanda saya cenderung membosankan dan membuat orang mengangkat alis sebelah. Tidak bisa memainkan alat musik apapun. Tidak bisa masak, kecuali sesederhana air dan semua yang instan. Saya juga pembosan. Saya bisa tertawa dalam menit yang kalian lihat lalu bisa nangis sesenggukan di menit berikutnya. Ini baru sebagian fakta tentang saya, akankah dia menerima seutuhnya andai tau semua tentang saya?

Tidak ada ‘bahagia selamanya’ yang saya janjikan. Tapi saya siap menjadi teman hidupnya, melewati setiap tanjakan, belokan, turunan, hingga menemukan jalanan tanpa rintangan. Saling membantu membaca rambu.
Saya tidak butuh sosok sempurna yang mengagumkan, cukup dia yang selalu hadir menenangkan ketika saya diserang kepanikan. Sebaliknya, saya bersedia meminjamkan bahu sehabis dia lelah seharian, tidak tau ke mana harus menuju.

Kita, manusia biasa yang saling bisa membuat satu sama lain luar biasa.:

Tuesday, July 24, 2012

saya rindu masa itu

Selayaknya hidup yang berjalan maju, saya memang tidak bisa balik memutar ke masa lalu. Beruntunglah atas terciptanya memori dalam otakmu. Setidaknya bisa sesekali membayangkan momenmomen yang menyentuh buatmu. Kalau diuraikan, memori dalam otakmu itu hanya tentang semua yang mau kauingat. Kau menyingkirkan semua yang tidak mau kau kenang. Lihat, bukankah pilihan itu selalu ada? Mampus saja yang sengaja menyimpan kenangan yang menyakitkan.

Belakangan ini saya rajin membuka satu kotak memori tentang suatu masa, yang saya rindukan. Saya rindu bicara teoriteori. Berdiskusi di selasar gedung, pinggir danau, sampai berpindahpindah lokasi. Tidak lelahnya berbicara mimpi. Malam-malam tanpa tidur. Menyusup pelanpelan di kosan seorang teman. Mandi yang ditundatunda. Sikat gigi yang kadang terlupa. Bosan belajar di dalam kelas, kemudian melipir dulu menghirup udara segar. Tertawatawa.

Kau tahu masamasa itu? Ketika cangkircangkir beradu di udara, berteriak lantang tentang idealisme. Menertawakan pemikiranpemikiran lawan. Lalu di saat ini, ketika teoriteori itu menjadi usang karena tidak juga teraplikasi. Dan idealisme yang harus bertoleransi dengan realita.
Saya rindu masa itu.

Masa dimana saya bertemu temanteman yang mengajarkan saya untuk berjalan tanpa alas kaki. Sehingga, sejauh apapun saya berjalan, saya akan menyadari di mana saya melangkah. Merasakan basah, panas, dan bersentuhan langsung dengan tekstur tanah.

.:

Monday, July 23, 2012

sore



kamu begitu mistis

mungkin karena terpaan mentari

yang tipis tipis

tepat sore ini

lalu kaki kita terasa lelah

lalu merebah

pada setumpuk sofa merah

tempat kita melepas gundah

lalu kita tertawa

bersama hujan deras di luar sana

bingung linglung

mendengung

mengaum

jungkir

balik

pelik

saya,

kamu,

kita

Sunday, July 22, 2012

bermimpilah!

hey, bermimpi itu masih saja indah
walau tak tergapai
karena tubuh yang mulai renta
yang lelah menyisir satu persatu
jalanan yang juga mulai keriput
hey, bermimpilah pelan pelan
karena neptunus selalu bilang
tentang karang pada lautan luas
dengan kayak pun pasti bisa digapai
hey, bermimpilah setiap hari
karena apalah mati
jika hidup tanpa mimpi mimpi

::

Thursday, July 19, 2012

rencanaNya

masih di tanah yang sama
berteman rutinitas adiktif
yang tak bermateri
tapi tekun telah membuat saya
mencintai rutin ini
mengumpulkan sedikit pundi
dari pagi hingga pagi lagi
ah, semua terlihat tak menjanjikan
tapi rencana besar tuhan
mana mungkin kelihatan.

Thursday, July 12, 2012

kembali bertanya?

Banyak sekali hal-hal kecil di sekitar kita yang tercerabut parameternya. Ukuran nilai jadi tidak jelas. Baik, buruk, patut atau tidak, menjadi kabur. 

Selama beberapa jam dengan seorang teman, kami ngobrol panjang lebar tentang/mengenai ini, apakah manusia masih mengerti tujuan manusia?

Pada masa kanak-kanak, dimana dirinya berada pada tahap awal belajar, disuapi dengan ukuran-ukuran nilai yang makin meninggalkan kemanusiaannya. Tadinya yang dia mengerti, hidup adalah kasih sayang, cinta ibunya. Pintar dan bodoh, diukur dari kemampuannya menyenangkan hati orang tuanya. Lantas ketika dia masuk sekolah, semua dihancurkannya. Pintar adalah mendapat angka 9 ketika ujian, bodoh adalah mendapat angka 5 di lembaran.

Konsep "saling bantu"pun jadi buyar, ketika orientasinya dijadikan transaksi materi. "Saya bantu kamu asal...bla...bla...bla". Itu melesat jauh dari kecenderungan pengajaran kasih sayang lewat cinta kasih orang tua. Transaksinya spiritual, cinta dibalas patuh.

Baiklah manusia memang "makhluk transaksional", tapi ada letaknya. Transaksi ekonomi materi ujungnya adalah laba, tempatnya adalah niaga. Jujur. Sedang prinsip transaksi spiritual adalah "serve to other" melupakan kepentingan diri. Membahagiakan orang lain.

Tidak lantas terbalik-balik, transaksi material untuk spiritual atau sebaliknya. Akhirnya absurd. "Menolong adalah mendapatkan laba uang." Akhirnya, sekolah menyeret seorang justru untuk lebih jauh dari "mengenal dirinya" sebagai manusia. Mengajak pergi entah kemana.

Kita kehilangan banyak sekali esensi pendidikan, tujuan awalnya adalah mendapat ilmu pengetahuan untuk menyusur sejumlah misteri. Jadi buram. Tanda tanya besar seperti "kenapa kita diciptakan, siapa Tuhan, untuk apa ada penciptaan" dan pertanyaan dasar lainnya, mulai dihindari.

Bahkan, perbincangan tentang Tuhan-pun di sekolah tidak dibicarakan. Ya, karena Tuhan dianggap tidak bisa diverifikasi, dan tidak patut masuk. Manusia lantas diukur dengan parameter hukum semata bukan lagi moral yang berbicara, padahal hukum adalah pagar terendah kehidupan.

Saya sering bertanya kepada orang "kamu berhenti di lampu merah karena takut ditilang atau karena memperhatikan keselamatan orang lain?" Rata-rata jawabnya, karena takut ditilang. Ya, karena hidup dianggap sebagai upaya "memperluas diri sendiri." Bukankah mengerikan? Hukum memberi pagar pada wilayah-wilayah terendah, dimana kejahatan manusia bisa dilakukan. Apakah tanda adanya pasal-pasal kamu tetap membunuh? Tentu semestinya tidak. Moral yang "built in" semakin dijauhkan dari obrolan tentang kenyataan. Dia berada di ufuk sana, jauh.

Tak kurang-kurang ajaran agama memberikan petuah yang padat. Tapi mengapa kegelisahan juga makin memuncak?

Menurut saya, tak lain karena, tersingkirnya, perspektif spiritual dari aktifitas kehidupan. Agama dibangun sebagai ruang materi. Konsep "reward & punishment" yang ditulis pada kitab suci digambarkan benar-benar secara material. Unsur spiritualnya diganyang total. Pahala adalah ketika kamu melakukan kebaikan lantas Tuhan membalasnya dengan kekayaan, uang dan mobil, dan bisnis berlaba. Dipelintir. Dosa secara stereotip disimbolkan dengan kemiskinan, kebangkrutan dan susahnya nafkah. Ini memprihatinkan sekali.

Maka konsep kesuksesan saat ini, tak lebih dari, bagaimana mengumpulkan hal-hal yang seakan-akan spiritual menjadi material. Sukses adalah kaya, banyak uang, menginjak orang tak mengapa. Itupun masih bawa-bawa nama Tuhan, yang penting masuk surga. Duh...

Ini kecenderungan apa? Bukankah hal tersebut adalah "cara manusia menghancurkan dirinya sendiri?" Ditambah keblinger lagi, ketika nasehat masuk menjadi industri. Bagaimana tidak lucu, masak menasehati orang harus bertarif? Sedekah dimatematikan. Jika menyumbang orang sekian rupiah, maka mendapat imbalan sekian rupiah. Ini melayani diri sendiri atas nama Tuhan. Sementara pertanyaan mendasar, yang juga masih ditelusuri ilmu pengetahuan, masih belum terjawab, saat itu kita makin jauh pula dengan esensi tujuan.

Suatu hari, seorang teman bertanya "Tuhan itu agamanya apa?" Lho, saya ketawa ngakak mendengar ini. Lantas saya bilang "Ah kamu pertanyaannya kurang keren. Coba yang 'lebih' berani lagi. Misal "Kenapa penciptaan itu harus ada? Apa tujuannya?" Beberapa memang suka "sok berani" bikin pertanyaan. Tapi tidak penting-penting amat. Coba yang lebih mendasar lagi. Supaya lebih makjleb.

Saya bayangkan, jikalau kita semua tidak menghilangkan "semangat budaya luhur" dalam berapa sa, mungkin keblingeran nilai tak separah ini. Agama-agama yang masuk ke kepulauan ini mengajarkan nilai yang tak jauh dari pemahaman spiritual lokal. Hanya beberapa perspektif dibenahi. Yang Islam berlomba-lomba menjadi Arab. Melupakan bahwa Islam itu kumpulan nilai yang dipadu dengan cara berpikir "nusantara". Padahal, darah-darah pelakunya adalah aliran yang dipenuhi oleh bibit spiritualitas dari sini, bukan Arab atau Eropa. Bagaimana bisa klop?

Bacalah simbol-simbol budaya, bacalah tanda-tanda dalam kitab suci, gunakanlah akal, bukan kemarahan. Lihat betapa kita telah jauh dari tujuan. Semoga, kita semua kembali ke pertanyaan mendasar meletakkan diri sebagaimana mestinya. Mendapat ukuran-ukuran nilai dari nurani.

"Kenapa penciptaan itu ada?", "Dari mana kita berasal, kemana kita menuju?", itu pertanyaan intinya.

Hidup adalah melayani, kepada yang dicintai, bukan melayani diri sendiri.

Demikian. semoga ocehan ini tidak ditanggapi dengan kemarahan. Tapi perenungan.

Hidup adalah masalah penempatan, mana yang utama mana sarana, mana niat mana tujuan. []

Thursday, July 5, 2012

ladang-ladang kebaikan

when i was sick

inilah kesempatan berharga, peluang emas, jangan sampai disia-siakan

Ternyata sakit tidak selalu meninggalkan kesan kesedihan dan penderitaan bagi seseorang, tapi justru ia menjadi momentum lonjakan kebaikan dalam menyemai dan mengumpulkan butir-butir kebaikan. Dan yang terpenting dan sangat berharga adalah bahwa sakit adalah momentum untuk muhasabah terhadap nikmat kesehatan yang selama ini dinikmati. Di sini sakit berfungsi sebagai pengontrol terhadap nikmat kesehatan dan kesenangan yang telah dihabiskan.

Mungkin anda bertanya-tanya, bagaimana mungkin sakit yang identik dengan penderitaan disebut sebagai peluang emas. Memang betul, episode sakit adalah episode yang tidak mengenakkan. Meski hanya kaki yang bengkak, seluruh badan ikut merasakannya. Meski hanya satu jari yang luka, seluruh perasaan menjadi labil, akibatnya pekerjaan pun tidak lagi produktif. Namun, di sisi lain, sakit bisa menjadi kesempatan berharga bagai seseorang yang pandai memetik hikmah.

Ketika episode sakit benar-benar datang, yuk kita selami, lalu kita petik hikmahnya yang seluas samudera itu. Sungguh rugilah kita, jika sudah sakit, lalu tidak mendapatkan hikmah apapun. Nah, berikut adalah beberapa hikmah sakit yang penulis bagi …

Pertama, SAKIT adalah UJIAN buat kita apakah kita layak disemati gelar “ahli syukur”. Ketika kita mendapatkan tambahan harta, lalu kita bersyukur, itu biasa. Tetapi ketika kita sakit, tetapi kita tetap bersyukur, itu baru luar biasa.

Tuhan Yang Maha Baik ingin menaikkan derajat kita menjadi ahli syukur. Kita mau naik kelas, maka kita harus ujian dulu. Maka, Dia memberikan tangganya berupa ujian sakit. Memang tidak enak naik tangga, capek, lelah, namun setelah berhasil melewatinya, semoga kemuliaan dari Tuhan sudah menanti.

Mengapa sakit menjadi ujian untuk membuktikan kualitas syukur? Karena sebenarnya sakit yang kita rasakan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan luasnya karunia dan kenikmatan yang diberikan olehNya. Seringkali, kita hanya berfokus pada bagian tubuh yang sakit saja, seharian mengeluh di bagian itu-itu saja, padahal pada saat yang bersamaan bagian tubuh lain masih berfungsi sempurna, maha karya Dia yang Luar Biasa.

Kedua, SAKIT adalah PRASYARAT terkabulnya DOA. Seringkali terkabulnya sebuah doa tertunda karena dosa-dosa yang kita lakukan.

Dosa mata, dosa telinga, dosa mulut, prasangka, sedikit demi sedikit menumpuk tanpa kita sadari. Karena tidak sadar, kita tidak pernah menyesalinya, akhirnya dosa-dosa tersebut tidak pernah kita tobati. Lalu Tuhan Yang Maha Baik mengkaruniakan sakit untuk menghapus dosa-dosa tersebut, sehingga apa yang kita munajatkan dalam doa tidak terhalang lagi.

Ketiga, SAKIT adalah PERINGATAN atas kualitas kita dalam manajemen diri. Sakit menjadi tempat kita berkaca betapa sering kita abai atas kualitas makanan. Kita sering tidak adil kepada tubuh atau tidak memberikan hak yang memadai untuk istirahat, padahal Tuhan telah mengamanahkan tubuh ini dengan segala kehebatan dan kecanggihan mekanismenya. Maka, mari kita manfaatkan episode sakit sebagai momentum introspeksi diri kita.

Sakit adalah bagian dari kasih sayang Tuhan yang sangat besar bagi hamba-Nya. Justru karena sakit kita semakin merasa bersyukur kepada Tuhan, karena diberi kesempatan untuk menghapuskan dosa-dosa kecil. Sakit bisa membuat kita merengkuh pahala kesabaran yang terhampar luas, sabar yang penuh dengan keindahan.

Demikian beberapa hikmah sakit. Semoga tulisan ini menjadi energi untuk kita semua untuk tetap tersenyum dalam mengarungi ujian sakit. Kita harus sangat berhati-hati dengan sakit, karena tidak semua orang mempunyai kekuatan menata masa sakit itu menjadi ladang-ladang kebaikan.


Friday, April 20, 2012

kesetimbangan

kesetimbangan


Passion: something that excites your energy and your spirit. 
~Sir Ken Robinson

Kesetimbangan adalah keadaan setimbang. Berada dalam titik keseimbangan.

Dalam pekerjaan -apapun itu pekerjaannya- sangat diperlukan titik kesetimbangan. Sebuah pekerjaan yang membuat pikiran tenang. Apa yang kita lakukan juga memenuhi batin. Semangat yang menyala pada setiap harinya. Mantap dan tidak goyah dalam kesetimbangan bukan berarti tidak beriak. Riak-riak dalam keseharian bekerja membuat kita tersadar : apa yang kita kerjakan, di mana kita berdiri, untuk apa kita berkarya. Riak membuat kita berefleksi.

Kesetimbangan adalah bekerja dan belajar. Belajar dan bekerja. Keduanya tidak selalu harus di tempat yang nyaman, tetapi harus kondusif dalam lingkungan yang sehat. Terkadang tempat yang terlalu nyaman malah membuat kita tidak belajar. Tidak mumpuni berkarya. Terlalu tenang bukanlah kesetimbangan.

Kesetimbangan adalah titik energi yang berada di pusat. Ia tidak kurang, tidak pula lebih. Ketika energi yang dikeluarkan tidak tergantikan penuh sehingga menjadi celah yang semakin menganga, kita semakin menjauh dari kesetimbangan. Semangat meredup seiring waktu berjalan. Tempat yang  sehat akan menggantikan energi yang kita keluarkan, membuat kita belajar dari 'ketidaknyamanan'.

Kesetimbangan adalah sebuah titik bergerak. Berkembang sejalan dengan gairah yang bertumbuh. Berjalan seiring dengan kedewasaan.

Terkadang aku merasa tidak berada di titik kesetimbangan ketika aku tidak memiliki energi untuk bisa mengeluarkan pikiranku dalam tulisan. Atau, ketika energi untuk melakukan hal-hal menyenangkan habis terkuras, seperti tangki yang (tanpa kita sadari) bocor. Dan pada itu kita dapat bertanya, apakah kita belum menemukan gairah yang sesungguhnya, ataukah energi dan semangat yang seharusnya membakar tidak berada dalam tungku yang tepat?

Untukmu : apakah energi, semangat, dan gairahmu sudah benar-benar dalam kesetimbangan?