Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

Friday, October 18, 2013

aku melihat.

kekosongan adalah keberadaan yang mutlak.

ada saatnya aku menemukan sesuatu, pun ada saatnya sesuatu yang menemukan aku.

hingga suatu hari, aku berdiri di atas dasar.

aku menunduk.

kulihat ada puncak-puncak yang tak disyukuri.

kemudian aku menoleh sedikit.

kulihat ada berbagai keterkesanan yang menyesatkan.

lalu aku menoleh lagi.

kulihat ada keterbatasan yang hebat, buah-buah dari kamuflase.

baiklah, aku diam saja.

ini sopan santunku pada bumi yang bergerak.

tetapi diam kan bukan berarti buta.

aku tetap melihat.

Monday, December 3, 2012

catatan pendek

hari ini, meragulah. begitu katamu.
".. dan biarkan ia meyakinkanmu."
lalu bila telinga mendengar bisikan tak terduga,
semua terjadi atas izin semesta.

hari ini, bertanyalah. begitu katamu.
".. dan biarkan ia menjawabmu."
lalu bila ada hati yang merasa,
ingatlah ada Dia, Yang Maha Membolakbalikkan.

hari ini, berjalanlah. begitu katamu.
".. dan biarkan jejakjejak menjadi sejarah."
sebab apa yang telah tertulis,
menjadi pelajaran untuk yang lapang hati.

hari ini, berdoalah. begitu katamu.
".. dan biarkan langit menguntai harapmu."
sebab tak ada doa yang tak sampai,
pun tak ada rencana besar yang kautahu.

dan untuk catatan pendek yang tak henti darimu, teman,
kuyakini itu adalah sebuah doa kebahagiaan yang tulus.

semoga semesta mengamini.


[]

365

Bagi saya, hidup itu seperti belajar meraba pada ruang tanpa cahaya. Dalam gelap, saya berjalan pelanpelan, kadang berlutut, merangkak menyusuri jejak. Setelah akhirnya berhasil keluar dari ruangan tersebut, saya sudah tidak ingat bagaimana caranya, yang penting saya sudah berhasil keluar. Seringkali. Itulah hidup. Terkadang kita tidak perlu mengerti semuanya. Kita hanya perlu berjalan melewatinya.

Dalam kurun waktu satu tahun, tentunya begitu banyak episode dalam kehidupan saya. Pertemuan dan perpisahan. Tawa dan air mata. Harapan, pemenuhan, dan kekecewaan. Bahagia dan luka. Semua pengalaman berkebalikan itu selalu menjadi guru terbaik, sebagai saksi dalam proses pendewasaan. 

Sebagian sudah saya pecahkan misterinya, sebagian masih saya coba resapi maknanya. Lalu hidup mengulang dirinya lagi, lagi, dan lagi. Kemudian kamu mulai memahami pola macam apa yang ditinggalkannya. Lalu kamu akan tertawa.

Berapa banyak lagi waktu yang kita punya?

Saya tidak tahu. Mungkin hanya hari ini saja, mungkin sebentar, mungkin selamanya. Tapi bukankah ‘selamanya’ tidak selalu berakhir bahagia? Dan waktu yang ‘sebentar’ bisa jadi meninggalkan manis dan makna mendalam yang kau nikmati untuk beberapa lama. Mungkin saja ‘hari ini’ mewujud kekal yang kau toreh dalam ingatan dan senantiasa kau putar ulang berkalikali. Sekali lagi, kita tidak akan pernah tahu.

Kalau memang hanya hari ini yang kita punya, kenangan macam apa yang akan kau ciptakan? Apakah kau ingin mengingatnya dalam setangkup senyum? Dalam potongan luka? Atau apa?

Akhirnya satu hari ini akan selesai. Semua kisahnya terangkum dalam satu masa, yang seolah hanya lewat sekejap mata. Ketika esok mentari hadir lagi, semoga kita bisa melangkahkan kaki dengan ringan menikmati setiap tangis dan tawa. Mempergunakan waktu sebaikbaiknya. Untuk mereguk semuanya. Untuk tidak menundanunda. Untuk jujur terhadap apapun yang kita rasa. Untuk mempersembahkan waktu bagi mereka yang kita cintai.

Karena kita tidak pernah tahu berapa banyak lagi waktu yang kita punya, mari rayakan saja hari ini!

[]

Tuesday, July 31, 2012

pengeluh.mengeluh.keluhan



Coba tengok di sekitar kita. Berapa banyak dalam sehari orangorang mengeluh? Dengan sok bijaknya lalu berdalih, itu bukan keluhan melainkan hanya berbagi cerita. Haha, whatever! Why do people complain too often? Kenapa manusia cenderung suka mengeluh?

Saya bukan manusia sempurna. Bukan lebih baik dari orang lain. Saya juga suka mengeluh, bercerita penuh peluh. Menuntut ini dan itu ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang saya mau. Tetapi, setahun belakangan ini saya banyak belajar. Belajar untuk lebih menerima maupun melepaskan. Bahwa ternyata mengeluh tidak lantas menyelesaikan masalah.

Pernahkah kamu ada di keadaan lelah melihat orang lain terlalu sering mengeluh? Hatihati, bisa jadi orang lain juga lelah dengan kita yang terlampau banyak mengeluh =).

Bukan berarti saya menganut aliran “keep positive”. Saya lebih setuju dengan membiarkan hal negatif itu mengalir, tidak memasungnya atau dipaksa bertukar tempat dengan positif. Keduanya sebaiknya mengalir pada porsinya. Tanpa solusi karbitan. Biarkan keduanya tumbuh dengan sehat, tanpa berlebihan.

Terlalu sering mengeluh, pada akhirnya membuat kita mati rasa. Bayangkan, jika untuk hal tertentu, skala keluhan kita adalah 1. Ketika muncul hal lain, skala keluhan kita meningkat jadi 2. Semakin banyak hal yang tidak menyenangkan, akan terus menambah skala keluhan. Maka pada titik tertentu, kita mati rasa terhadap keluhan.

Keluhan biasanya muncul karena adanya stimulus dari luar. Situasi yang tidak mengenakkan, orang lain yang tidak pernah mengerti, rencana yang berjalan tidak tepat, dan sebagainya. Halhal semacam itu membuat kita lupa bercermin. Mungkin saja, sebenarnya faktor di atas disebabkan oleh diri kita sendiri. Kita tidak pernah tahu.

Ada baiknya, sebelum mengeluh, kita senantiasa ingat untuk bersyukur. (jangan lupa ingatkan saya juga)

Monday, July 30, 2012

selamat pagi

dari jendela berbingkai kayu,
perempuan itu mengeja pagi
ada gerimis yang mengantarkan hari
selalu, merefleksi dua sisi
ada cerita melankoli
dan kutukan tanpa henti
ini cuma tentang aku dan langit pagi
sini, kuceritakan kau tentang harapan yang menggantung
kuberitahu juga tentang mimpi abuabu
juga tentang cinta yang masih saja menuju
dan kali ini, di sini..
aku masih saja mengakrabi pagi
momen untuk melemparkan harapku tinggitinggi
selamat pagi,
p a g i

Thursday, July 26, 2012

akulah hujan

Akulah hujan. 
Dan kamu semacam petrichor, wangi pertama yang menemaniku terjatuh. 
Kadang aku menitik dengan lemah, sementara wangimu begitu kuat. 
Atau sebaliknya. 

Seringkali, kita saling mencari dan menunggu. 
Aku yang telah mengempukkan tanah, siap untuk terjatuh, sementara kamu bersantai menyandarkan diri pada ilalang. 
Aku menggigil pada rindu yang membungkus bulirku sendiri. 
Dan itu membuatku resah.

Lalu kamu bergerak menujuku. 
Aku menjatuhkan diri, lalu kamu menangkapnya. 
Menjelma senyawa wewangian yang terproyeksi tanah dan rerumputan.

Wednesday, July 25, 2012

luar biasa

Saya percaya bahwa cinta itu ada, tapi sempat skeptis mengenai adanya konsep soulmate dan semacamnya. Ah tapi kata orang, ngga boleh sesumbar, mungkin si soulmate sedang dalam perjalanannya menuju saya. Sejujurnya, saya paling ngga suka menunggu. Tapi entah kenapa, untuk satu orang itu saya punya cadangan toleransi waktu tak terhingga. Satu orang itu adalah dia, yang masih disembunyikan Tuhan dalam tanganNya. Mungkin tangan kiri atau tangan kanan, saya tidak pernah tau pasti.

Kalau nanti dia membaca tulisan ini, pasti dia menilai saya terlalu sentimentil atau apa. Setidaknya dia tau, dia istimewa. Saya tidak tau, apakah dia berkacamata, berbadan tidak terlalu kurus, berambut cepak, atau akan seperti apa. Terserah. Bisa dibilang, saya mati terhadap segala kriteria rupa.
Tapi, seringkali terbayang, dia adalah sosok menyenangkan, yang tidak pernah kehabisan cerita untuk dibagi. Mendatangi saya dengan mata berbinar, antusias membicarakan mimpi, ide, dan rencananya. Membuat saya betah duduk berlamalama. Dia bisa menjawab semua pertanyaan berdasar logika. Saya membayangkan, ketika bersama dia, maka bosan itu tidak pernah ada. Dia selalu berhasil membuat saya tertawa. Saya juga membayangkan, dia jago sekali memainkan alat musik dan senang mengabadikan momen melalui kameranya. Dengan caranya, dia selalu bisa meyakinkan saya yang sering tidak yakin pada diri sendiri. Singkat kata, saya penggemarnya nomor satu.

Sebentar, saya menarik nafas sejenak sambil menuliskan ini. Bertemu saja belum, tapi sudah berekspektasi berlebihan.

Menyadari, saya bukanlah sosok menyenangkan, memiliki begitu banyak kekurangan, lalu mengapa menuntutnya kesempurnaan? Gaya bercanda saya cenderung membosankan dan membuat orang mengangkat alis sebelah. Tidak bisa memainkan alat musik apapun. Tidak bisa masak, kecuali sesederhana air dan semua yang instan. Saya juga pembosan. Saya bisa tertawa dalam menit yang kalian lihat lalu bisa nangis sesenggukan di menit berikutnya. Ini baru sebagian fakta tentang saya, akankah dia menerima seutuhnya andai tau semua tentang saya?

Tidak ada ‘bahagia selamanya’ yang saya janjikan. Tapi saya siap menjadi teman hidupnya, melewati setiap tanjakan, belokan, turunan, hingga menemukan jalanan tanpa rintangan. Saling membantu membaca rambu.
Saya tidak butuh sosok sempurna yang mengagumkan, cukup dia yang selalu hadir menenangkan ketika saya diserang kepanikan. Sebaliknya, saya bersedia meminjamkan bahu sehabis dia lelah seharian, tidak tau ke mana harus menuju.

Kita, manusia biasa yang saling bisa membuat satu sama lain luar biasa.:

Sunday, July 22, 2012

bermimpilah!

hey, bermimpi itu masih saja indah
walau tak tergapai
karena tubuh yang mulai renta
yang lelah menyisir satu persatu
jalanan yang juga mulai keriput
hey, bermimpilah pelan pelan
karena neptunus selalu bilang
tentang karang pada lautan luas
dengan kayak pun pasti bisa digapai
hey, bermimpilah setiap hari
karena apalah mati
jika hidup tanpa mimpi mimpi

::

Friday, April 20, 2012

kesetimbangan

kesetimbangan


Passion: something that excites your energy and your spirit. 
~Sir Ken Robinson

Kesetimbangan adalah keadaan setimbang. Berada dalam titik keseimbangan.

Dalam pekerjaan -apapun itu pekerjaannya- sangat diperlukan titik kesetimbangan. Sebuah pekerjaan yang membuat pikiran tenang. Apa yang kita lakukan juga memenuhi batin. Semangat yang menyala pada setiap harinya. Mantap dan tidak goyah dalam kesetimbangan bukan berarti tidak beriak. Riak-riak dalam keseharian bekerja membuat kita tersadar : apa yang kita kerjakan, di mana kita berdiri, untuk apa kita berkarya. Riak membuat kita berefleksi.

Kesetimbangan adalah bekerja dan belajar. Belajar dan bekerja. Keduanya tidak selalu harus di tempat yang nyaman, tetapi harus kondusif dalam lingkungan yang sehat. Terkadang tempat yang terlalu nyaman malah membuat kita tidak belajar. Tidak mumpuni berkarya. Terlalu tenang bukanlah kesetimbangan.

Kesetimbangan adalah titik energi yang berada di pusat. Ia tidak kurang, tidak pula lebih. Ketika energi yang dikeluarkan tidak tergantikan penuh sehingga menjadi celah yang semakin menganga, kita semakin menjauh dari kesetimbangan. Semangat meredup seiring waktu berjalan. Tempat yang  sehat akan menggantikan energi yang kita keluarkan, membuat kita belajar dari 'ketidaknyamanan'.

Kesetimbangan adalah sebuah titik bergerak. Berkembang sejalan dengan gairah yang bertumbuh. Berjalan seiring dengan kedewasaan.

Terkadang aku merasa tidak berada di titik kesetimbangan ketika aku tidak memiliki energi untuk bisa mengeluarkan pikiranku dalam tulisan. Atau, ketika energi untuk melakukan hal-hal menyenangkan habis terkuras, seperti tangki yang (tanpa kita sadari) bocor. Dan pada itu kita dapat bertanya, apakah kita belum menemukan gairah yang sesungguhnya, ataukah energi dan semangat yang seharusnya membakar tidak berada dalam tungku yang tepat?

Untukmu : apakah energi, semangat, dan gairahmu sudah benar-benar dalam kesetimbangan?

Tuesday, April 3, 2012

[Coelho] how i write

paulo coelho


On Inspiration: “I procrastinate, check some emails … then I start. I write my books very quickly because I cannot stop.”
On Confidence: “You cannot sell your next book by underrating your book that was just published. Be proud of what you have.”

On Simplicity: “What counts in a good story is the person inside. Keep it simple.”

On Trust: “Trust your reader. Don’t try to describe things. Give a hint and they will fulfill this hint with their own imagination.”

On Writing: “I write the book that wants to be written. Behind the first sentence is a thread that takes you to the last.”

On Expertise: “You cannot take something out of nothing. When you write a book, you use your experience.”

On Critics: “Writers want to please their peers. They want to be recognized. Forget about this. Who cares? You should care to share your soul and not to please other writers who will write a review that nobody is going to read.”

On Overcoming Stagnation: “If I don’t feel inspired, I need to move forward. You need to have be disciplined.”

On Research: “If you overload your book with a lot of research, you are going to be very boring to yourself and to your reader. Books are not there to show how intelligent you are. Books are there to show your soul.”

On Notetaking: “I use notes to take them out of my head. I will never use them the next day – they will be useless.”

On Story Arcs: “There are only four types of stories: love story between 2 people, love story between 3 people, a struggle for power, and a journey.”

On Style: “Don’t try to innovate storytelling. Tell a good story and it is magical. I see people trying to work so much in style, finding different ways to tell the same thing. It is like fashion. Style is the dress, but the dress does not dictate what is inside the dress. What counts is the person.”

On Notetaking II : “If you want to capture ideas, you are lost. You are going to be detached from emotions and forget to live your life. You will be an observer and not a human being living his or her life. Forget notetaking. What is important remains, what is not important goes away.”

-----------------------------------------

Paulo Coelho was born in Rio de Janeiro, Brazil.[1] He attended a Jesuit school. As a teenager, Coelho wanted to become a writer. Upon telling his mother this, she responded with "My dear, your father is an engineer. He's a logical, reasonable man with a very clear vision of the world. Do you actually know what it means to be a writer?"[1] After researching, Coelho concluded that a writer "always wears glasses and never combs his hair" and has a "duty and an obligation never to be understood by his own generation," amongst other things.[1] At 16, Coelho's introversion and opposition to following a traditional path led to his parents committing him to a mental institution from which he escaped three times before being released at the age of 20.[2][3] Coelho later remarked that "It wasn't that they wanted to hurt me, but they didn't know what to do... They did not do that to destroy me, they did that to save me."[4]

At his parents' wishes, Coelho enrolled in law school and abandoned his dream of becoming a writer. One year later, he dropped out and lived life as a hippie, traveling through South America, North Africa, Mexico, and Europe and becoming immersed in the drug culture of the 1960s.[5][6] Upon his return to Brazil, Coelho worked as a songwriter, composing lyrics for Elis Regina, Rita Lee, and Brazilian iconRaul Seixas. Composing with Raul led to Paulo being associated with satanism and occultism, due to the content of some songs.[7] In 1974, Coelho was arrested for "subversive" activities by the ruling military government, who had taken power ten years earlier and viewed his lyrics as left-wing and dangerous.[4] Coelho also worked as an actor, journalist, and theatre director before pursuing his writing career.[7]

In 1986, Coelho walked the 500-plus mile Road of Santiago de Compostela in northwestern Spain, a turning point in his life.[5][8] On the path, Coelho had a spiritual awakening, which he described autobiographically in The Pilgrimage.[9] In an interview, Coelho stated "[In 1986], I was very happy in the things I was doing. I was doing something that gave me food and water – to use the metaphor in "The Alchemist", I was working, I had a person whom I loved, I had money, but I was not fulfilling my dream. My dream was, and still is, to be a writer."[10] Coelho would leave his lucrative career as a songwriter and pursue writing full-time.

Wednesday, March 28, 2012

the rescuing hug

rescuing hug
This picture is from an article called "The Rescuing Hug". The article details the first week of life of a set of twins. Each were in their respective incubators and one was not expected to live. A hospital nurse fought against the hospital rules and placed the babies in one incubator. When they were placed together, the healthier of the two, threw an arm over her sister in an endearing embrace. The smaller baby's heart stabilized and temperature rose to normal.


sesungguhnya,
peluk hangat yang tulus itu
penyembuh dari segala sakit
dan sesungguhnya,
tanpa kata terucap bibir
hati kita bicara

Another example how much babies need close skin contact. You can read the rest of the story here.

...