Tuesday, April 3, 2012

THE LORAX : saving thneeds for ecological reminder


"kecuali...ada orang-orang yang amat peduli sepertimu...maka keadaan akan membaik."



Quotes:
Ted: The last seed?
Once-ler: It's not about what it is. It's about what it can become.

Nice-to-know:
This is the first film to feature Universal's 100th Anniversary logo.

Voice:
Danny DeVito sebagai The Lorax
Ed Helms sebagai The Once-ler
Zac Efron sebagai Ted
Taylor Swift sebagai Audrey
Betty White sebagai Grammy Norma
Rob Riggle sebagai Mr. O'Hare

Director:
Merupakan film kedua bagi Chris Renaud setelah Despicable Me (2010) dan kolaborasi pertama dengan Kyle Balda yang sebelumnya menangani beberapa film pendek.

W for Words:
Koleksi cerita Dr. Seuss memang amat beragam dari yang pendek hingga yang panjang. Sebagian di antaranya sudah diadaptasi ke layar lebar dengan pencapaian tersukses adalah How the Grinch Stole Christmas! (2000). Kali ini buku cerita anak-anak berisi 45 halaman pun ditranskripkan menjadi skenario oleh duo penulis, Ken Daurio dan Cinco Paul ke dalam animasi berdurasi 86 menit yang sebetulnya bertemakan serius ini yaitu pelestarian alam dari campur tangan manusia.

Bocah berusia 12 tahun Ted bertekad memenangkan hati gadis pujaannya Audrey dengan menelusuri kisah Lorax, makhluk oranye penggerutu berkumis lebat yang selalu berjuang untuk kestabilan ekosistem yang pernah dirusak oleh manusia egois bernama Once-ler yang seenaknya menggunduli pohon Thneeds untuk kepentingannya sendiri. Sayangnya petualangan Ted harus ditentang oleh walikota eksentrik Mr. O’Hare yang tidak ingin mengubah tata kotanya dengan cara apapun juga.

Ted

Plot utamanya memang sederhana yaitu pertemuan laki-laki dan perempuan. Namun di luar itu, subplotnya mengenai pelestarian alam memang amat kuat dinarasikan lewat animasi grafis yang keindahannya mencengangkan termasuk desain Thneedville lawas dan anyar yang sangat kontras. Meski demikian unsur 3D yang dibebatkannya nyaris tidak memberikan kontribusi apa-apa selain penampakan “timbul” yang minim, jauh jika dibandingkan dengan karya sutradara Chris Renaud sebelumnya.

Percakapan menggigit antara Ted dan Once-Ler di balik gubuknya merupakan kekuatan utama film ini. Rasa penasaran Ted disulihkan dengan baik oleh Zac Efron. Sama halnya kebijaksanaan Lorax yang disuarakan dengan maksimal oleh Danny DeVito. Sedangkan kredibilitas tinggi patut dilayangkan kepada penjiwaan naik turun Ed Helms yang hidup dalam penyesalan setelah termakan oleh ambisi pribadinya semasa muda lewat penemuan Truffula selain dorongan untuk memenuhi kebutuhan keluarga besarnya sendiri. Kelembutan suara Taylor Swift sebagai Audrey juga memperkaya keragaman karakter disini.

The Lorax & Once-Ler

Proyek yang beresiko tinggi ini rasanya akan lebih dapat dinikmati oleh anak-anak yang menemukan lucunya tingkah laku anak beruang atau imutnya trio ikan bernyanyi sambil berkoreografi. Nyatanya orang dewasa mungkin tidak akan terlalu terkesan begitu mengetahui sesungguhnya apa yang ingin dikampanyekan film ini yaitu menanam sebatang pohon demi kelangsungan penghijauan di muka bumi. Tujuan yang mulia karena digelorakan lewat animasi cantik semi-persuasif yang untungnya tidak terkesan memaksa ini. Simply let the trees grow. We should start caring bout it without being reminded!

Durasi:
86 menit

U.S. Box Office:.
$121,724,850 till March 2012

Overall:
7.5 out of 10

[Coelho] how i write

paulo coelho


On Inspiration: “I procrastinate, check some emails … then I start. I write my books very quickly because I cannot stop.”
On Confidence: “You cannot sell your next book by underrating your book that was just published. Be proud of what you have.”

On Simplicity: “What counts in a good story is the person inside. Keep it simple.”

On Trust: “Trust your reader. Don’t try to describe things. Give a hint and they will fulfill this hint with their own imagination.”

On Writing: “I write the book that wants to be written. Behind the first sentence is a thread that takes you to the last.”

On Expertise: “You cannot take something out of nothing. When you write a book, you use your experience.”

On Critics: “Writers want to please their peers. They want to be recognized. Forget about this. Who cares? You should care to share your soul and not to please other writers who will write a review that nobody is going to read.”

On Overcoming Stagnation: “If I don’t feel inspired, I need to move forward. You need to have be disciplined.”

On Research: “If you overload your book with a lot of research, you are going to be very boring to yourself and to your reader. Books are not there to show how intelligent you are. Books are there to show your soul.”

On Notetaking: “I use notes to take them out of my head. I will never use them the next day – they will be useless.”

On Story Arcs: “There are only four types of stories: love story between 2 people, love story between 3 people, a struggle for power, and a journey.”

On Style: “Don’t try to innovate storytelling. Tell a good story and it is magical. I see people trying to work so much in style, finding different ways to tell the same thing. It is like fashion. Style is the dress, but the dress does not dictate what is inside the dress. What counts is the person.”

On Notetaking II : “If you want to capture ideas, you are lost. You are going to be detached from emotions and forget to live your life. You will be an observer and not a human being living his or her life. Forget notetaking. What is important remains, what is not important goes away.”

-----------------------------------------

Paulo Coelho was born in Rio de Janeiro, Brazil.[1] He attended a Jesuit school. As a teenager, Coelho wanted to become a writer. Upon telling his mother this, she responded with "My dear, your father is an engineer. He's a logical, reasonable man with a very clear vision of the world. Do you actually know what it means to be a writer?"[1] After researching, Coelho concluded that a writer "always wears glasses and never combs his hair" and has a "duty and an obligation never to be understood by his own generation," amongst other things.[1] At 16, Coelho's introversion and opposition to following a traditional path led to his parents committing him to a mental institution from which he escaped three times before being released at the age of 20.[2][3] Coelho later remarked that "It wasn't that they wanted to hurt me, but they didn't know what to do... They did not do that to destroy me, they did that to save me."[4]

At his parents' wishes, Coelho enrolled in law school and abandoned his dream of becoming a writer. One year later, he dropped out and lived life as a hippie, traveling through South America, North Africa, Mexico, and Europe and becoming immersed in the drug culture of the 1960s.[5][6] Upon his return to Brazil, Coelho worked as a songwriter, composing lyrics for Elis Regina, Rita Lee, and Brazilian iconRaul Seixas. Composing with Raul led to Paulo being associated with satanism and occultism, due to the content of some songs.[7] In 1974, Coelho was arrested for "subversive" activities by the ruling military government, who had taken power ten years earlier and viewed his lyrics as left-wing and dangerous.[4] Coelho also worked as an actor, journalist, and theatre director before pursuing his writing career.[7]

In 1986, Coelho walked the 500-plus mile Road of Santiago de Compostela in northwestern Spain, a turning point in his life.[5][8] On the path, Coelho had a spiritual awakening, which he described autobiographically in The Pilgrimage.[9] In an interview, Coelho stated "[In 1986], I was very happy in the things I was doing. I was doing something that gave me food and water – to use the metaphor in "The Alchemist", I was working, I had a person whom I loved, I had money, but I was not fulfilling my dream. My dream was, and still is, to be a writer."[10] Coelho would leave his lucrative career as a songwriter and pursue writing full-time.

bingkai hujan




Sore ini aku terdiam di tepi garasi, memperhatikan kelopak-kelopak hujan jatuh berguguran dengan rela. Angin yang sibuk menjatuhkannya sesekali menampar pipiku dengan satu dua kelopak hujan itu, mengingatkanku agar tak terlalu terhanyut dalam kenangan akanmu. Masa lalu, katanya.

Kuperhatikan kelopak-kelopak indah yang jatuh berhamburan, sayang sekali bila hanya dibiarkan percuma berserakan. Terpikir dalam riuh bisuku untuk mengumpulkan banyak kelopaknya, mungkin nanti malam saat aku tak dapat tidur seperti biasanya, kelopak itu dapat kubuat menjadi sebuah hiasan. Menyibukkan diriku dengan hal lain, agar malam ini aku tak perlu sibuk memikirkanmu.

Lalu aku mulai bingung hiasan apa yang dapat dibuat dari kelopak hujan bila malam.

Sebenarnya aku ingin membuat pigura warna-warni dari kelopak hujan itu, agar nanti bisa kubuat fotomu yang sekarang masih saja terpasung di hatiku terpasang di pigura itu, untuk nanti kusimpan di meja kamarku. Dengan begitu aku tak perlu membawa-bawa fotomu kemanapun aku pergi, jadi nanti aku hanya akan dapat melihat wajahmu saat berada di kamarku, dan di luar itu aku dapat melihat wajah mungkin seorang atau dua orang lainnya.

Tapi mungkin sulit membuatnya berwarna-warni bila tanpa pewarna matahari, bisakah kubuat berwarna bila dengan cahaya bulan saja?! Aku tak mau bila harus membingkai fotomu dengan pigura biasa tanpa warna, bila memang harus kubingkai fotomu, harus dengan pigura indah penuh warna. Harus begitu. Tapi bisakah aku membuat kelopak hujan itu berwarna-warni bila tanpa pewarna matahari?!

Setelah berpikir lama-lama, aku tak menemukan cara untuk mewarnai kelopak hujan itu malam nanti. Mungkin aku harus membuat sesuatu yang lain darinya, bukan sebuah pigura. Bagaimana bila kubuat saja kelopak hujan itu menjadi sebuah cawan, tak perlu berwarna, tapi pasti tetap dapat berguna. Nanti, sesekali cawan hujan itu dapat kupakai untuk menampung air mata yang terkadang terjatuh tanpa sengaja saat aku memandangi fotomu sambil erat menutup mata. Ah, aku lupa, walau memang tak ada jatuh yang sengaja tapi aku tak lagi mau menjatuhkan air mata karenamu, bila sendiri.

Aku kembali berpikir lama-lama, apa yang bisa kubuat dari kelopak hujan itu nanti malam, agar bisa kubuat sesuatu dengan fotomu yang masih saja terpasung di hatiku.

Ah, aku berpikir terlalu lama. Sekarang kelopak-kelopak hujan itu sudah berhenti berguguran, kini mereka sudah tertumpuk-tumpuk di tanah berserakan. Aku tak mau mengumpulkannya bila sudah berhamburan di tanah, tampak tidak lagi indah bagai hati yang sudah kalah menyerah. Sudahlah, aku tak jadi mengumpulkannya, ini karena kebiasaan bodohku berpikir lama-lama. Tapi sepertinya malam nanti aku tak jadi mempunyai kesibukan lain selain sibuk memikirkanmu lagi. Baguslah, hanya malam nanti, setidaknya sore ini aku tidak memikirkanmu.

Monday, April 2, 2012

lagu bahagia

Dance first. Think later. It’s the natural order.
-Samuel Beckett



bahagia itu sebentuk bintang. berpendar, berdenyar seiring degup jantung. terang seterangterangnya, karena lagu bahagia itu adalah tualang berkas yang masuk ke dalam jejantung.

bahagia itu jutaan nada yang terserak, di langit, di tanah, di lelautan. belahan bumi utara dan selatan, juga timur dan barat. kita pungut satu per satu, lalu diracik menjadi lagu untuk hati, untuk semesta. mengisi yang hampa, merona lembaran putih.

bahagia itu sebentuk kembang api pada hati. terkadang mereka tak bernama, hanya untuk dirasa.

ada sebentuk waktu yang mempertemukan kita pada satu lagu. nadaku, nadamu. bersama kita buat harmoninya dalam sebuah ibadah agung. kita nyanyikan pada terang siang dan kelam malam. juga saat lembayung fajar dan senja. pesanku, aku tak mau lagu sendu.

sebelum waktu itu datang menghampiri, kusiapkan garisgaris tempatmu meletakkan setiap nada. kemudian kubangun birama dan ketukan yang mengiringi kita. nanti, bersama kita menari dengan senyuman dan iringannya, untuk kita, untuk dunia.

kesempurnaan adalah nadanada miring yang mengejut, menjadi cantik karena paduannya yang tak biasa. kesempurnaan adalah harmoni nadanada yang lincah menari pada ketukan tidak tepat yang berirama. kesempurnaan adalah menghibur semesta, dan ketika itu Tuhan tersenyum melalui senyap semesta, terpesona.

lalu, adakah sebuah lagu mengenal tanda tanya?

angkasa & bumi

angkasa dan bumi


aku berayahkan angkasa, di mana aku menggantungkan gemintang mendatang. beribukan bumi yang berbadan tanah berairmata samudra, di mana aku menabur benih berbunga kriya.

pada api aku meliukkan sukma, menggeletik pada degap jantung. serupa manusia menghitung masa dengan detak waktu.

pada hujan aku menari bersama jiwa, menggeliang bersama helai dedaun yang memberi hidup. serupa timur melahirkan metari melalui rahim fajar.

pada alam aku merebahkan nyawaku, nyenyak dalam pelukan semesta. serupa bocah yang menyatu dalam lengan indungnya.

anakku bukanlah dewa dan dewi yang dipujapuji. tetapi asaku yang tergantung berbisik pada pepohon yang mengabulkan pinta. ijinkan anakku seperti moyangnya, Dharti, memegang semua dalam sebuah keberkahan.

per-empu-an

per-empu-an


Tentang per-empu-an.

Tentang sebuah kehormatan terlahir sebagai per-empu-an.

Tentang kelembutan yang membungkus.


Per-empu-an bukanlah raga, tetapi jiwa.


Dengan jiwa, rahim akan menjadi selimut pertama sebuah kehidupan. Samudra luas untuk sebuah benih. Kehangatannya merasuk pada titik terdalam dari jejantung.

Dengan jiwa, payudara akan menjadi sungai tak berhulu, mata air sebentuk kehidupan. Dari darah menjadi darah. Menjalar dari denyut yang berdendang. Mematang dari harap.


Per-empu-an. Dalam ruhnya tertitip jutaan matahari. Di mana tatapnya menjadi cahaya. Dalam raganya tertitip jutaan rintik gerimis. Di mana tetes matanya menjadi doa.


.


Menjadi per-empu-an adalah sebuah perjalanan. Perjalanan panjang yang tidak akan habis hingga usia sampai pada hilir. Bermuara pada lelautan, kembali pada yang melahirkan, Sang Maha.

Menjadi per-empu-an adalah sebuah pengabdian pada semesta. Tanpa jiwa, per-empu-an hanya disebut betina, tertulis jelas pada sel-sel berkromosom tertentu yang menciptakan rahim dan payudara.

Menjadi per-empu-an adalah menjadi rindu. Menjadi ruang paling nyaman dengan canda, tangis, kemarahan, kesenangan, dan semua yang tercampur di antaranya.

Menjadi per-empu-an adalah memungut kepingan cinta. Mengasah cinta. Kemudian menjadi purna pada akhirnya.


Lalu, keping mana yang akan kaupungut untuk kali pertama pada perjalananmu?

perempuan pengembara

perempuan pengembara


Memang tampak cantik ia
dengan celana merah menyala.
Senja berduyun-duyun
mengejar petang mengejar malam.
Pada sebuah billboard masih juga ia bertahan
dengan airmata yang disembunyikan.

Di jalanan para demonstran pesta pora
mengibarkan kata mengibarkan celana.
“Ayo kita sergap dia!”
“Ayo tangkap saya!” ia menantang
sambil ia pamerkan pantatnya yang matang.
Mereka lalu mengepungnya,
ingin meraih wajahnya, meraih sakitnya.

“Rebutlah aku!” ia merayu
dan mereka siap menyerbu.

Perempuan pengembara.
Aku telah lihat ia punya rahasia.
Aku telah lihat tailalat kecil di teteknya,
tailalat besar di pantatnya.
Aku telah lihat luka yang dalam dan kekal
di sentral tubuhnya.

Memang tambah cantik ia
dengan anggur darah di tangannya.
Kota akan kehilangan dia bila ia tak lagi di sana.