Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Monday, December 3, 2012

LIFE OF PI : Remarkable New Age’s Life and Spirituality



Quote: 
Santosh Patel: You think tiger is your friend, he is an animal, not a playmate
Pi Patel: Animals have souls... I have seen it in their eyes.

Nice-to-know: 

Pada satu titik, M. Night Shyamalan sempat dikabarkan akan menulis dan menyutradarai proyek ini.

Cast: 
Suraj Sharma sebagai Pi Patel
Irrfan Khan sebagai Adult Pi Patel
Ayush Tandon sebagai Pi Patel (11 / 12 Years)
Gautam Belur sebagai Pi Patel (5 Years)
Adil Hussain sebagai Santosh Patel
Tabu sebagai Gita Patel
Rafe Spall sebagai Writer
Gérard Depardieu sebagai Cook

Director: 
Merupakan film ke-13 bagi Ang Lee setelah Taking Woodstock (2009).

W For Words:
Butuh waktu sekitar sebelas tahun bagi studio besar Hollywood untuk yakin mengadaptasi novel petualangan fantasi keluaran tahun 2001 berjudul Life of Pi karangan pria kelahiran Kanada-Perancis, Yann Martel yang berhasil memenangkan Man Booker Prize untuk edisi Inggris setahun berikutnya. Kisah seorang anak India itu juga diterjemahkan dalam berbagai bahasa hingga menjadi salah satu buku paling berpengaruh selama satu dekade terakhir. Adalah Fox 2000 Pictures yang sepakat mempercayakan bujet 120 juta dollar di tangan sutradara Asia bernama Ang Lee yang juga pemegang Piala Oscar di tahun 2005 lalu.
 
 
 
 
Pi adalah seorang anak yang menganut beberapa keyakinan sekaligus sebagai pedoman hidupnya. Ketika ayahnya memutuskan menjual isi kebun binatang keluarga melalui perjalanan laut, bencana kapal karam diterjang badai merenggut orang-orang terkasih dalam hidup Pi. Sekoci yang menyelamatkannya hanya menyisakan seekor zebra, hyena, orang utan dan harimau Bengali yang buas. Lantas Pi berusaha keras untuk bertahan hidup terapung-apung di lautan sekaligus menceritakan seluruh kisah hidupnya yang luar biasa tersebut kepada salah satu penulis yang ingin menerbitkannya dalam bentuk buku.

Skrip milik David Magee membagi perjalanan hidup Pi dalam 4 fase yaitu sekolah dasar, sekolah menengah, remaja dan dewasa dimana masing-masing memberikan kontribusi terhadap tingkah laku dan cara pemikirannya. Satu masa yang mengubah hidupnya secara nyata adalah survival 227 hari bersama Richard Parker sambil tetap meyakini campur tangan Tuhan yang sesungguhnya. Semua itu tertuang dalam narasi yang terstruktur rapi. Permasalahan utamanya, sejak awal anda diminta untuk “kompromi” terhadap tokoh Pi yang mempercayai Hindu, Kristen dan Islam sekaligus. Please continue if you’re okay with it!
 
 
 
 
Belur, Tandon dan Khan memang likeable tapi standout performance jatuh pada debutan Sharma. Nyawa film yang bergantung padanya berhasil dituntaskan dengan terjemahan emosi kesedihan, kekalutan, kepasrahan, kemarahan dan keberanian yang begitu nyata tanpa harus kehilangan sisi charming nya dimana sebagian besar adegan dilakukan “seorang diri”. Tak kurang dari empat ekor harimau Bengali dipilih untuk menghidupkan Richard Parker yang buas dan jinak sekaligus. Tentunya bantuan CGI amat dibutuhkan untuk mewujudkan interaksi intens yang sangat menantang tersebut.

Sutradara Ang benar-benar memaksimalkan kamera 3D di tangannya untuk menyajikan visual indah memanjakan mata baik siang maupun malam. Bagaimana pantulan cahaya matahari terbit/terbenam di atas permukaan laut, ikan terbang berwarna perak, ikan paus yang melompat, ubur-ubur di laut biru yang bercahaya, meerkat yang bergerombol memenuhi pulau dsb bekerja secara efektif menjaga intensitas minat anda. Spesial efek badai yang mengombang-ambingkan kapal juga berhasil dengan baik sehingga ritme naik turun film terbangun dengan sempurna dalam melayarkan konflik yang ada. He’s one of the most versatile directors ever!
 
 
 
 
Konsep rantai makanan juga tergambar disini ketika tikus, zebra, orangutan, hyena dan harimau saling memangsa. Contoh seleksi alam juga terpampang melalui pulau kematian yang menyediakan air segar menyejukkan di siang hari tetapi berubah menjadi air asam mematikan di malam hari sehingga populasi meerkat yang mendiaminya tersingkir dengan sendirinya. Perubahan interaksi Pi dengan Richard yang semula mangsa dan predator sampai bisa hidup bersisian dalam simbiosis mutualisme adalah proses menarik walau sesungguhnya saya mengharapkan sedikit kedalaman yang lebih rasional lagi.
Life Of Pi memang mengajarkan kita akan segudang hal mulai dari bertahan hidup, bekerja keras, berpikir cerdas, beradaptasi cepat hingga berserah diri pada Tuhan. Perjalanan spiritual yang dialami Piscine Moralto Patel niscaya memunculkan arti hidup sebenarnya, bisa ditemukan tanpa harus dicari. Tentunya dapat direfleksikan dengan kehidupan kita sehari-hari dalam menghadapi cobaan yang datang silih berganti. Apabila ada yang harus dikorbankan sebagian besar berupa waktu dan kenangan tak ternilai yang bahkan tidak selalu menyisakan satupun kata perpisahan. Let’s sail away the journey. Shall we?

Durasi: 
127 menit 

U.S. Box Office: 
$30,573,101 till Nov 2012 

Overall: 
8 out of 10

Tuesday, October 16, 2012

LOOPER : Gripping Time Travel Tale About Hitman


 
 
Quotes:
Older Joe: I'm going to stop this guy. 
Joe: None of this concerns me... 
Older Joe: It is going to happen to you! 
Joe: It's going to happen to YOU, it's not going to happen to ME! 

Nice-to-know:
Adegan dimana Joe muda terjatuh menghindari ledakan bertepatan dengan hari ulang tahun ke-30 Joseph Gordon-Levitt. Ia lantas dibiarkan menggantung dengan kabel karena kru menyanyikan “Happy Birthday" sambil menyodorkan kue ulang tahun. 

Cast:
Joseph Gordon-Levitt sebagai Joe
Bruce Willis sebagai Old Joe
Emily Blunt sebagai Sara
Paul Dano sebagai Seth
Noah Segan sebagai Kid Blue
Piper Perabo sebagai Suzie
Jeff Daniels sebagai Abe 

Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Rian Johnson setelah Brick (2005) dan The Brothers Bloom (2008).

W For Words:
Science fiction dengan premis time travel memang tidak banyak. Oleh karena itu beberapa diantaranya tercatat sebagai cult movies sebut saja Terminator, Planet of the Apes, Star Trek dsb yang telah melahirkan berbagai seri. Namun untuk yang satu ini, referensi terdekat mungkin ada pada 12 Monkeys (1995). Selain sama-sama dibintangi Bruce Willis, duet Joseph Gordon-Levitt dan Emily Blunt yang telah memasuki jajaran bintang papan atas Hollywood mengingatkan anda pada Brad Pitt dan Madeleine Stowe di situasi yang kurang lebih sama pada masanya dahulu. 

2044, Joe adalah penembak jitu yang mengarungi perjalanan waktu untuk menghabisi target-targetnya dari masa depan. Ia dan looper-looper lainnya menikmati kehidupan mewah hasil bayaran tinggi yang didapat. Pada satu kesempatan, Joe tanpa sengaja membebaskan buruannya karena menyadari bahwa orang itu adalah dirinya sendiri dalam versi 30 tahun lebih tua. Keduanya lantas terlibat dalam permainan hidup dan mati sambil melibatkan nyawa seorang anak yang diyakini akan menjelma menjadi The Rainmaker di masa mendatang.

 
 
Upaya Gordon-Levitt untuk menyamakan penampilannya dengan Willis patut diacungi jempol (terima kasih pada hasil make-up Kazuhiro Tsuji). Aktingnya sebagai Joe muda kian matang dan dominan di setiap kemunculannya. Willis yang mulai menua terbukti masih tangguh dan cekatan sebagai Joe tua meski dengan gaya yang tak jauh berbeda. Sama halnya dengan Daniels sebagai antagonis Abe yang berdarah dingin. Blunt amatlah likeable sebagai ibu protektif yang keras kepala. Kredit tersendiri pantas dilayangkan bagi si cilik Gagnon yang mampu memberikan kesan polos dan misterius secara bersamaan. 

Satu-satunya komplain saya terhadap skrip yang brilian ini adalah paruh pertamanya yang terlalu naratif menjelaskan paradoks alam semesta, mitos dan kondisi yang dihadapi Joe. Beruntung di paruh kedua, tempo lebih efektif dalam bertutur sambil mempersempit karakter yang ada menuju klimaks yang ditunggu-tunggu itu. Kerumitan buah pikiran nan orisinil milik Johnson tersebut mampu diterjemahkan lewat cara yang paling sederhana sekalipun tanpa harus merendahkan intelejensi penonton.

 
 
Johnson yang juga bertindak sebagai sutradara sukses mengetengahkan konsep masa lalu, masa kini dan masa depan yang saling berkaitan. Bagaimana labirin pikirannya dituangkan ke dalam setiap potongan puzzle yang fasih bertutur membentuk sebuah pola tidak biasa. Pembagian ragam karakternya yang variatif terbilang seimbang. Elemen-elemen futuristik semisal sepeda terbang, telekinesis sampai senjata masa depan turut membangkitkan imajinasi. Penggunaan spesial efek juga tergolong maksimal, tidak melulu bombastis tapi tetap disesuaikan dengan kebutuhan cerita.

Eksekusi Johnson yang rapi diikuti dengan koneksi past and future yang sinergis dari Gordon-Levitt dan Willis menjadikan Looper sebuah time travel sci-fi movie terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Perjalanan waktu yang akan membawa anda berputar-putar melihat masa depan secara antusias sambil melontarkan segudang pertanyaan yang turut terjawab pada akhirnya. Jangan lupakan endingnya yang emosional dan mind-blowing itu yang menegaskan hukum sebab akibat yang dapat mengubah segalanya. Beware that you might need second viewing to understand the concepts better!

Durasi:
118 menit

U.S. Movie Box Office:
$20,801,552 till September 2012

Overall:
8 out of 10

Tuesday, October 9, 2012

PERAHU KERTAS PART 2 : Berlabuh Tambatkan Hati dan Perasaan



 
 
Quotes: 
Remi
: Cari orang yang bisa kasih kamu segala-galanya tanpa kamu harus minta.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi kolaborasi oleh Starvision, Bentang Pictures dan Dapur Film ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 1 Oktober 2012.

Cast: 
Maudy Ayunda sebagai Kugy
Adipati Dolken sebagai Keenan
Reza Rahadian sebagai Remi
Elyzia Mulachela sebagai Luhde
Sylvia Fully R sebagai Noni
Fauzan Smith sebagai Eko
Ira Wibowo sebagai Lena
Tio Pakusadewo sebagai Wayan
August Melasz sebagai Adri

Director: 
Hanung Bramantyo
mengawali karir penyutradaraannya lewat dua film di tahun 2004 yaitu Brownies dan Catatan Akhir Sekolah.

W For Words: 
Jika Perahu Kertas Part 1 sudah berlayar menghanyutkan mimpi dan cinta dengan hasil lebih dari lima ratus ribu penonton selama periode penayangan libur Lebaran 2012 yang lalu maka kelanjutannya tentu layak ditunggu. Akankah Kugy dan Keenan dapat bersatu pada akhirnya? Itulah yang menjadi pertanyaan anda semua. Presentasi yang menyisakan seperempat novelnya akan berusaha dijawab oleh sang sutradara, Hanung Bramantyo dan empunya cerita, Dewi Lestari dalam film berdurasi lebih kurang 105 menit ini. Penasaran?

Ketika Keenan mengembalikan buku Jenderal Pilik kepada Kugy, timbul ide mereka untuk menerbitkan cerita anak yang selama ini diidam-idamkan. Kesibukan itu mengganggu pekerjaan Kugy di AdVocaDo sehingga banyak karyawan menyorot hubungannya dengan Remi. Liburan ke Bali yang dimanfaatkan untuk refreshing malah mempertemukan Kugy dengan Luhde di pura.Saat itulah semua rahasia terbongkar. Keenan berupaya menetapkan hatinya, demikian pula dengan Remi berusaha membuktikan keseriusan cintanya. Mungkinkah empat hati tersebut menemukan pasangan sejatinya?
 
 
 
 
Karakteristik yang sudah terbangun di bagian pertamanya membuat Hanung lebih leluasa untuk mengeksplorasi ruang perasaan empat tokoh utama disini. Memori masa lampau yang terus membekas di hati tak ayal menimbulkan keraguan untuk melangkah ke depan. Lihat bagaimana sulitnya Keenan meyakinkan Luhde bahwa ia tak perlu menjadi orang lain untuk dicintainya, atau susahnya Remi memastikan Kugy bahwa dirinya adalah orang yang tepat untuk dipilihnya. Tarik ulur konflik tersebut bergulir secara bergantian untuk memberikan sudut pandang terbaik dalam takaran seimbang.

Dialog merupakan kekuatan utama di bagian keduanya ini. Lontaran isi hati acapkali menusuk kalbu karena kejujuran yang mengiringi. Sayangnya momen-momen yang sudah dikondisikan untuk itu terkadang dirusak oleh perpindahan fokus yang kurang berarti. Tak jarang penonton malah tertawa saat seharusnya dituntut meresapi maknanya dalam-dalam. Tata musik dari Andhika Triyadi masih memberikan nuansa menggetarkan yang sama, berpadu cantik dengan tata kamera dari Faozan Rizal dan penyuntingan mulus dari Cesa David Luckmansyah.
 
 
 
 
Maudy, Adipati, Reza, Elyzia berhasil melalui transisi remaja di bagian pertama untuk melebur ke dalam fase dewasa muda disini. Kedewasaan Kugy, Keenan, Remi dan Luhde kian terasa tatkala dihadapkan pada problema cinta. Mereka tidak memilih untuk galau atau menangis tetapi bersikap tegar dan terus melangkah dengan pilihannya masing-masing. Intervensi kisah dari tokoh Wayan, Lena dan Adri di penghujung justru semakin memperkaya pemahaman bahwa setiap keputusan harus didasari pada konsekuensi dan tanggungjawab kelak. 

Perahu Kertas Part
2 ini memang lebih sederhana dibandingkan Part 1 nya. Fokus yang lebih sempit membuat ruang gerak menjadi lebih terkendali. Hanya saja tarik ulur yang terlalu detail mengenai arah hubungan Kugy dan Keenan bagi sebagian penonton bisa jadi bertele-tele dan membosankan. Penutupnya pun berlangsung sekejap tanpa kesan mendalam, layaknya kita menjentikkan jari tangan. Sebuah umpama tafsir perasaan yang mengikuti kata hati dan tidak, semua kembali lagi pada pribadi yang menjalaninya. Pelabuhan terakhir jelas tujuan agen Neptunus yang satu ini, dengan atau tanpa radar.

Durasi: 
1
05 menit

Overall: 
7.5 out of 10

TED : As Crazy As Its Charms


 
 
Quotes: 
Ted: [dressed in a suit and tie] I look stupid.
John: No, you don't, you look dapper.
Ted: John, I look like something you give to your kid when you tell 'em Grandma died.

Nice-to-know: 
Tak banyak yang tahu jika Mark Wahlberg dan Seth MacFarlane lolos dari tragedi 9/11 karena tidak naik pesawat yang menabrak World Trade Center pada waktu itu.
Wahlberg sudah memesan tiket penerbangan American Airlines Flight 11 tapi memutuskan berkendara ke New York terlebih dahulu sebelum terbang ke California berikutnya. McFarlane sudah dijadwalkan di pesawat yang sama tetapi tertinggal 10 menit dan sempat melihat tabrakan tersebut ketika duduk di bandara.

Cast: 

Mark Wahlberg
sebagai John Bennett
Mila Kunis
sebagai Lori Collins
Seth MacFarlane
sebagai Ted
Joel McHale
sebagai Rex
Giovanni Ribisi
sebagai Donny
Patrick Warburton
sebagai Guy

Director: 

Merupakan
feature film debut bagi Seth MacFarlane yang lebih dikenal sebagai aktor dan penulis ini.

W For Words:
Setiap anak di belahan dunia manapun pasti pernah memiliki mainan kesayangan masa kecil. Berapa dari anda yang akan unjuk tangan jika saya sebutkan boneka teddy bear sebagai salah satu contohnya? Nyaris semua! Berapa dari anda yang, katakan saja, beruntung mendapati boneka teddy bear anda hidup? Tidak ada! Setidaknya imajinasi tersebut mampu divisualisasikan secara unik lewat kolaborasi Universal Pictures, Media Rights Capital, Fuzzy Door Productions, Bluegrass Films dan Smart Entertainment yang diperuntukkan bagi kalangan dewasa saja ini.

John Bennett kecil tidak pernah memiliki teman sampai orangtuanya membelikan boneka teddy bear pada hari Natal. Satu permintaan saat bintang jatuh terkabul, Ted hidup dan menjadi sahabat terbaik John.. sampai berusia 35 tahun! Empat tahun sudah, John menjalin hubungan kasih dengan Lori Collins yang secara status sosial dan pendapatan jauh di atasnya. Hal itu tidak mengurangi kemesraan mereka dimana John sendiri mulai berpikir untuk menikah. Masalahnya Lori tidak terlalu menyukai Ted yang dianggapnya sebagai penghambat. Bagaimana kelanjutan polemik dilematis ini?
 
 
 
 
Rasanya tinggal menunggu waktu bagi seorang berbakat seperti Seth MacFarlane untuk dapat mengeluarkan segenap potensi yang dimilikinya. Kesempatan itu tiba melalui film ini dimana ia bertindak sebagai produser, sutradara, penulis dan pengisi suara! Premis yang semula terdengar bodoh, absurd dan mustahil itu mampu dikejawantahkan secara brilian menjadi komedi slapstick bernuansa satir yang mampu mengundang tawa dan simpati dari penonton pada saat bersamaan. Semua karakter dalam film ini memiliki fungsi masing-masing untuk menjembatani setiap konflik yang ada.

Mark Wahlberg sukses menghidupkan tokoh pria dewasa John Bennett yang pecundang tetapi tetap pribadi yang menyenangkan, kawan dan kekasih yang setia. Mila Kunis memberikan persona tepat bagi wanita karir Lori Collins yang memiliki perencanaan dan masa depan yang cemerlang. Keduanya berbagi  chemistry yang believable, tidak luar biasa tapi cukup menerjemahkan problema apa yang kira-kira ada di antara mereka. Pihak antagonis berhasil dibawakan Giovanni Ribisi dan Max Harris sebagai ayah dan anak yang terganggu mentalitasnya. Selain itu Joel McHale juga memberikan kontribusi menarik lewat sosok atasan yang congkak dan kelewat percaya diri.
 
 
 
 
Polah tingkah Ted di sepanjang film memang efektif mengocok tawa. Anda tetap akan jatuh cinta padanya walau segila apapun kelakuannya. Adegan paling membekas dalam benak anda bisa jadi ketika Ted menunjukkan kemesumannya lewat bahasa tubuh nan eksplisit. Hilarious! Kinerja animasi dari Tippett Studio dan Iloura secara luar biasa mampu mewujudkan gerak bibir, mata, tubuh yang amat nyata layaknya manusia dalam ukuran mini. Alih suara dari MacFarlane turut memberikan “nyawa” tersendiri, terlepas dari betapa familiarnya formula sidekick yang digunakan sang creator dalam membangun sisi komedik yang diinginkan.
Berbagai referensi yang digunakan film ini memang lawas. Teddy Ruxpin adalah boneka beruang yang bisa berbicara dan menjadi mainan terlaris medio 1985-1986. Hm, Ted mungkin tidak “semanis” Teddy karena lebih suka mengisap ganja dan bermain perempuan. Masih ada sains fiksi petualangan klasik, Flash Gordon (1980) yang menampilkan Sam J. Jones sebagai dirinya sendiri. Sosok yang menjadi role model bagi John Bennett yang mendambakan kekuatan serupa untuk setidaknya mengubah hidupnya ke arah yang lebih baik. Manusiawi bukan?
 

 
 
Kelebihan utama Ted tidak hanya menjual kelucuan tapi juga definisi nyata tentang cinta dan persahabatan sejati yang begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari. SIapa yang tidak pernah ada di posisi John Bennett? Untuk itulah film yang menggunakan narasi linier layaknya komik bergambar itu memang lebih disegmentasikan untuk penonton pria dewasa. Satu pertanyaan antah berantah yang tak terjawab adalah jika Ted begitu terkenal, mengapa ia masih harus bekerja dan John masih kesulitan uang? In the end, not every moviegoers will fully appreciate this movie but surely everyone of them will love Ted, cute heart-warming bear who always know how to have fun and friends.

Durasi: 
106
menit

U.S. Box Office:
$217,838,900 till Sep 2012

Overall:out of 10

Monday, July 23, 2012

THE DARK KNIGHT RISES : Inspiring Bruce Wayne’s Rises For Fascinating Finale


Quotes:
Bruce Wayne: Why didn't you just kill me?

Bane: Your punishment must be more severe.

Nice-to-know:
Tiket untuk premiere film ini di teater IMAX New York terjual enam bulan di muka.


Cast:

Christian Bale
sebagai Bruce Wayne / Batman
Tom Hardy
sebagai Bane
Liam Neeson
sebagai Ra's Al Ghul
Joseph Gordon-Levitt
sebagai John Blake
Anne Hathaway
sebagai Selina Kyle / Catwoman
Gary Oldman
sebagai Jim Gordon
Morgan Freeman
sebagai Lucius Fox
Marion Cotillard
sebagai Miranda Tate
Michael Caine
sebagai Alfred

Director:

Merupakan feature film ke-8 bagi
Christopher Nolan yang memulainya sejak Following (1998).

W For Words:
Harus diakui, Christopher Nolan adalah seorang pria jenius yang telah mengubah sekaligus membawa franchise Batman ke tingkat yang lebih tinggi. Bukan hanya lewat satu film tetapi tiga sekaligus! Trilogi tematik yang kemudian ia ungkapkan sebagai “Ketakutan" untuk Batman Begins (2005), "Kekacauan” untuk The Dark Knight (2008) dan diakhiri dengan “Kesakitan” untuk installment ketiganya ini. Konsep yang menarik! Tidak hanya itu, TDK juga berhasil memboyong dua piala Oscar sekaligus menciptakan sejarah asal mula
full IMAX filmmaking yang sebelumnya hanya angan-angan belaka bagi pembuat dan penikmat film manapun.
 
 
8 tahun berlalu setelah kematian misterius Harvey Dent, Gotham City telah kehilangan semangat Komisaris Jim Gordon dan juga sosok pahlawan Batman. Bruce Wayne lebih memilih untuk bersembunyi dalam kesedihan dan penyesalan yang sempat membuat pelayan setianya, Alfred putus asa. Kemunculan pencuri cantik Selina Kyle dikenal sebagai Catwoman yang diikuti dengan “The League of Shadows” pimpinan teroris keji Bane serta merta memanfaatkan teknologi canggih Wayne Enterprise menjadi senjata nuklir yang akan menghancurkan kota. Sekali lagi Batman harus bertempur habis-habisan demi menggagalkan rencana kelam tersebut.

Sebagai sutradara, Nolan mampu mempertajam visualisasi brilian yang memanjakan mata penontonnya, terasa berlipat-lipat lebih megah dalam format IMAX, melalui natural maupun built-up setting yang mencengangkan. Aksi demi aksinya juga tanpa henti sehingga ketegangan dapat terjaga di sepanjang durasinya yang maksi itu. Lupakan esensi cikal bakal standar superhero dalam BB, crime drama dalam TDK karena penutup trilogy ini lebih menekankan pada war drama antara penguasa dan rakyat yang berjalan di atas batas kebaikan versus kejahatan. Nolan Brothers dan David S. Goyer yang menulis skripnya memilih bahasan yang tak terlalu kelam dan berat untuk dicerna walaupun mempertahankan multi karakter yang lumayan kompleks jika ditelaah.
 
 
Tiga nama baru yang pantas mendapat kredit adalah Tom Hardy, Anne Hathaway dan Joseph Gordon-Levitt. Bane adalah villain yang patut ditakuti karena kekuatan fisik dan kekejaman aksinya dalam mengusung terorisme, Hardy cukup berhasil membawakannya meski hanya mengandalkan sorot mata, intonasi suara dan bahasa tubuhnya saja. Catwoman adalah penjahat yang tricky karena ketidak berpihakan yang didukung oleh kecerdasan otaknya, Hathaway memerankannya dengan wajar dan seksi tanpa harus terkesan menggoda. John Blake adalah polisi muda yang berjiwa besar dan berinisiatif tinggi dalam sistem hukum yang mengikatnya, Gordon-Levitt mampu menokohkannya dengan dewasa dan menarik walau cuma berkostum dan berkelengkapan standar.

Christian Bale memang lebih dituntut untuk berakting sebagai pribadi Bruce Wayne yang kompleks di luar topeng Batman yang biasa dikenakannya. Rasa kehilangan akan Rachel Dawes yang masih tersisa diperparah dengan rasa bersalah pada publik Gotham City karena merenggut imej penyelamat Harvey Dent. Kebangkitannya samasekali tidak mudah karena Bane menghempaskannya ke titik dimana ia harus memulai semuanya dari awal. Berbagai montage di pertengahan film memperlihatkan perjuangan keras Batman, pengenalan asal usul siapa Bane sebenarnya di samping persiapan twist yang sengaja disiapkan Nolan di akhir kisah. Jangan lupa bahwa tokoh-tokoh setia pendamping Bruce Wayne masih muncul yaitu Lucius Fox (Morgan Freeman), Jim Gordon (Gary Oldman), Alfred (Michael Caine).
 
 
The Dark Knight Rises adalah finale yang megah dan mengasyikkan sebagai salah satu summer blockbuster paling ditunggu tahun ini. Memang tidak luar biasa membekas dalam benak layaknya TDK tetapi tetap menahbiskannya secara utuh sebagai tiga episode “manusia kelelawar” terbaik yang pernah diutarakan dalam dunia perfilman. Bruce Wayne disini adalah sebuah inspirasi bagaimana seorang manusia harus hidup dan bangkit dari segala keterpurukan yang dihadapi. Bahwa setiap manusia dapat menyandang status pahlawan seberapa kecilpun usahanya menolong orang lain. Finally, we all should thank Nolan for his aspiring great writing and direction surely can enhance any movie-going experience, especially for superhero movies that most touted as mindless entertainments.

Durasi:
164 menit

Overall:
8.5 out of 10

Thursday, July 12, 2012

MADAGASCAR 3 : EUROPE’S MOST WANTED Colorful Vibrant Circus Save The Show


Quotes:
Alex: In order to get home, we will come up with an act that will blow everyone away!

Nice-to-know:
Sekuel yang masih diproduksi oleh DreamWorks Animation ini berjarak 7 tahun dari seri pertama dan 4 tahun dari seri keduanya.


Voice:

Ben Stiller
sebagai Alex
Chris Rock
sebagai Marty
David Schwimmer
sebagai Melman
Jada Pinkett Smith
sebagai Gloria
Sacha Baron Cohen
sebagai King Julien XIII
Cedric the Entertainer
sebagai Maurice
Jessica Chastain
sebagai Gia
Frances McDormand
sebagai Captain Chantel DuBois
Andy Richter
sebagai Mort
Bryan Cranston
sebagai Vitaly

Director:

Conrad Vernon
bergabung dengan duet Eric Darnell dan Tom McGrath yang sudah menyutradarai dua seri sebelumnya.

W For Words:
Kuartet Alex si singa, Marty si zebra, Melman si jerapah dan Gloria si kuda nil merupakan penghuni kebun binatang New York yang kompak dan atraktif. Petualangan mereka terbukti telah menjadi daya tarik utama DreamWorks Animation sejak kesuksesan Madagascar (2005) dan Madagascar: Escape 2 Africa (2008) dalam peredaran domestik dan internasionalnya yang menggembirakan. Eric Darnell yang sedari awal berperan aktif sebagai penulis skrip kali ini bertandem dengan Noah Baumbach mencari sensasi baru yang diharapkan kembali “menggigit” setelah 4 tahun berselang.

Mendapati diri ditipu mentah-mentah oleh gerombolan pinguin, empat sahabat ini melakukan pengejaran sampai Monte Carlo. Kehadiran mereka menarik perhatian Animal Control yang dikepalai oleh kapten wanita ambisius Chantel Dubois hingga terpaksa bergabung dengan kawanan sirkus Eropa. Alex harus berbohong bahwa ia dan teman-temannya merupakan anggota sirkus Amerika agar diterima oleh Gia, Vitaly dkk. Tujuannya tentu kembali ke Big Apple, terutama kebun binatang Central Park setelah rangkaian tur Eropa mulai dari Rome hingga London. Akankah atraksi mereka berhasil menarik penonton sekaligus menuntaskan misi bersama? 
 
 
Konsistensi karakteristik Alex, Marty, Gloria dan Melman tetap dipertahankan. Stiller, Rock, Schwimmer, Pinkett-Smith masih tetap eksentrik dengan keunikan masing-masing. Catatan khusus bagi Marty, dansa Afro polkadot lengkap dengan tampilan colorful nya itu sangat inspiratif. Sedangkan Baron Cohen melanjutkan rayuan mautnya terhadap Sonia, beruang betina yang loveable itu. Cute couple with slow-mo and background music! Pendatang baru Gia yang disuarakan oleh Chastain sebagai love interest nya Alex memang manis, kontras dengan Vitaly yang disulihkan dengan aksen Rusia kental oleh Cranston. Jangan lupakan pula kontribusi Short sebagai singa laut Stefano yang menyenangkan itu.

Beberapa elemen dalam animasi ini tergolong over the top, jika diperuntukkan untuk anak-anak mungkin dapat dimaafkan tetapi bagi orang dewasa bisa jadi mengangkat sebelah alisnya. Paling nyata adalah aksi impossible Vitaly menembus ring berdiameter semakin kecil, terjadi hanya dalam kedipan mata saja. Lainnya adalah aksi tak kenal lelah Dubois mengejar Alex,  lihat adegan pembuka saat ia melacak jejak, menerobos dinding sekaligus melompati gedung bertingkat. Well, those are too much. Ekspresi bengisnya mungkin mengingatkan anda pada tokoh Cruella DeVille dalam 101 Dalmatians (1996).
 
 
Bagan terbaik sekuel ini jelas ada pada pertunjukan sirkus ala Cirque de Soleil nya. Semua tokoh berbaur menjadi satu kesatuan yang utuh dalam mempertontonkan aksi bergemuruh luar biasa yang menyihir audiens dengan balutan warna-warni ciamik dan tembang enerjik “Fireworks” milik Katy Perry. Mata anda tak akan berkedip menikmatinya. Penempatan kamera dengan berbagai arah sudut pandang juga menjadikan efek 3D nya terasa lebih dinamis. Terima kasih pada kinerja trio sutradara Darnell-McGrath-Vernon yang bergerak cepat untuk meminimalkan unsur kemustahilannya disana-sini.

Madagascar 3 memang tidak berambisi menjadi film animasi terbaik yang akan dikenang selama-lamanya oleh penonton tetapi cukup memuaskan selama kurang dari satu setengah jam durasinya. Drama yang tak berlebihan, komedi penghadir tawa demi tawa serta aksi penggugah rasa mampu menata struktur yang kokoh sekaligus membuat anda tetap terhubung secara emosional dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Feel the European sensation buoyed by some famous tracks along the way. Yes, you have the most wanted simple entertainment for this summer and the producers will likely continue to the fourth, Madagascar 4ever perhaps? Move it!

Durasi:
85 menit

Overall:
7.5 out of 10

Monday, July 9, 2012

ABRAHAM LINCOLN : VAMPIRE HUNTER Missed Opportunity For Alternate Lincoln

 
 
Quotes:
Abraham Lincoln: History prefers legends to men. It prefers nobility to brutality, soaring speeches to wild deeds. History remembers the battle, but forgets the blood. However history remembers me before I was a President, it shall only remember a fraction of the truth...

Nice-to-know:
Tom Hardy sempat dikabarkan akan mengisi peran Lincoln tapi jadwalnya bersinggungan dengan The Dark Knight Rises. Kemudian Eric Bana, Timothy Olyphant, Adrien Brody, Josh Lucas, James D'Arcy dan Oliver Jackson-Cohen juga dipertimbangkan sebelum Benjamin Walker melewati proses casting.


Cast:

Benjamin Walker
sebagai Abraham Lincoln
Dominic Cooper
sebagai Henry Sturgess
Anthony Mackie
sebagai Will Johnson
Mary Elizabeth Winstead
sebagai Mary Todd Lincoln
Rufus Sewell
sebagai Adam
Marton Csokas
sebagai Jack Barts

Director:
Merupakan film ke-11 bagi
Timur Bekmambetov setelah dwilogi Yolki (2010-2011).

W For Words:
Abraham Lincoln adalah sosok Presiden Amerika Serikat ke-16 yang karismatik. Namun figurnya sekejap berubah dalam novel karya Seth Grahame-Smith yang memberikan biografi alternatif sebagai pemburu vampir ini. Konsep yang amat menarik walau mungkin akan memecahkan kubu pendukungnya menjadi dua bagian, yang suka dan tidak suka. Yes, pro dan kontra memang akan selalu ada. Setidaknya penggemar action thriller bisa berharap lebih dari konsep yang terkesan out-of-the-box semacam ini. Saya cuma berharap kalian tidak kecewa pada akhirnya nanti.

Semasa kecilnya, Abraham Lincoln menyaksikan ibunya tewas di tangan vampir. Dendam membara di hatinya menemukan titik terang saat berjumpa Henry Sturgess yang kemudian melatihnya menjadi seorang pemburu vampir yang handal seperti dirinya. Setelah berkarir dalam dunia politik yang membesarkan namanya hingga berpuncak sebagai Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln harus turun tangan dalam Perang Sipil yang menewaskan banyak orang dimana kaum vampir turut ambil bagian termasuk musuh lamanya, Adam. 
 
 
Unsur cerita dalam film ini nyaris diabaikan. Anda tak perlu kecerdasan untuk berusaha mengerti logika yang disodorkan. Cukup terima kenyataan bahwa Presiden AS yang paling dielu-elukan itu lebih memilih kapak sebagai senjata pemenggal dibanding otak sebagai senjata pemersatu. Sekuens adegan aksi yang ditawarkan sutradara Bekmambetov disini akan mengingatkan anda pada karya-karya terdahulunya terutama Wanted (2008). Lihat saat Abraham diwajibkan menebas sebatang pohon dengan satu ayunan, sama dengan Wesley diharuskan membelokkan arah peluru dengan satu letusan. Premisnya pun mirip dimana tokoh utama harus kehilangan orangtua sebelum berlatih keras untuk menuntaskan dendam.

Walker memang sudah melakukan yang terbaik dengan peran Lincoln di tangannya tapi sayangnya skrip tidak memaksimalkan potensinya selain beraksi dengan kapak dan berteriak sekeras-kerasnya. Chemistrynya dengan Elizabeth Winstead juga tidak mampu membangkitkan sisi emosional yang dibutuhkan. Cooper lah yang paling menonjol kali ini dengan karakter Sturgess yang karismatik. Sewell, Csokas dan Wasson juga memberikan penjiwaan satu dimensi terhadap tokoh-tokoh antagonis yang dipercayakan pada mereka. Beruntung costume designer dan make-up department berhasil mendandani kesemuanya dengan cukup baik dan terlihat meyakinkan.

 
Abraham Lincoln : Vampire Hunter terbukti se-cheesy judulnya dalam semangat film berbau supernatural kelas B. Bangunan cerita yang goyah, karakterisasi yang lemah gagal mendukung sisi action yang sebetulnya lumayan solid itu. Terima kasih pada production value yang menggigit dengan sinematografi yang memikat. Namun kekecewaan saya tetap tidak terobati. Dialog yang buruk serta momen bersejarah yang campur aduk rentang waktunya semakin menegaskan sisi minusnya. It’s okay to be campy but still engaged to the audiences. This one fails short for such extra effort. Easy to forget nor pass for summer entertainment season. Oh, one more thing, the 3D works only a little.

Durasi:
105 menit
U.S. Box Office:
$16,500,000  in opening week June 2012

Overall:
6.5 out of 10

BRAVE : Less Innovative But Still Morality Charming

 
 
Quotes:
Princess Merida: I want my freedom!
Queen Elinor: But are you willing to pay the price your freedom will cost?

Nice-to-know:
Awalnya dikabarkan berjudul The Bear and the Bow.

Voice:

Kelly Macdonald sebagai Merida
Emma Thompson sebagai Elinor
Billy Connolly sebagai Fergus
Julie Walters sebagai The Witch
Robbie Coltrane
sebagai Lord Dingwall
Kevin McKidd
sebagai Lord MacGuffin / Young MacGuffin
Craig Ferguson sebagai Lord Macintosh

Director:
Film kedua Brenda Chapman setelah The Prince of Egypt (1998) yang kali ini berkolaborasi dengan spesialis film pendek Mark Andrews dan astrada Steve Purcell.

W For Words:
Demi memperbaharui citarasa animasinya, Disney sudah beberapa kali bekerjasama dengan Pixar dalam menyuguhkan tontonan yang lebih modern dan tentunya menjual bagi segmentasi yang ditujunya. Salah satu dedengkot di belakangnya adalah Irene Mecchi yang kali ini bertandem dengan ketiga sutradara menggarap skrip aksi
heroine (pertama kali dalam produksi Pixar) pemberani yang jago memanah dalam nuansa Skotlandia. Menarik walaupun trailernya tidak terlihat menawarkan apa-apa. Still we cannot judge a movie by its trailer only. See deeper and give it a chance, in fact it’s a school holiday for kids!

Puteri Merida seringkali berargumen dengan ibunya, Ratu Elinor yang ingin menikahkannya dengan salah satu dari putera Lord Dingwall, Lord MacGuffin atau Lord Macintosh. Kontes memanah pun diadakan dan bisa ditebak, Merida yang jago memegang busur pun menang telak. Ketika melarikan diri ke hutan, Merida berjumpa penyihir yang mengabulkan permintaannya yaitu mengubah sang Ibu sesuai takdirnya. Tak diduga, Ratu Elinor berubah menjadi beruang dan segera menjadi buruan seantero kerajaan. Merida harus andalkan keberaniannya untuk menghapus kutukan tersebut sebelum terlambat. 
 
 
Premis yang diangkat masih seputar dongeng berlandaskan nilai-nilai keluarga yang memang tak terlalu inovatif. Pernah ada Brother Bear (2003) dengan ide yang kurang lebih sama, hanya berbeda ikatan dan gender saja. Disini Merida tetaplah tipikal puteri Disney yang mendambakan kebebasan dan kemandirian hidup. Konflik dengan sang ibu adalah kekuatan utama cerita tanpa berniat mengesampingkan sederetan tokoh lelaki yang berseliweran di istana dengan aksi spontanitas masing-masing. Raja Fergus dan tiga putra kembarnya terbukti masih mampu mencuri perhatian sebagai pelengkap.

Tampilan visualnya sangatlah memanjakan mata. Detil gesture terutama kibasan rambut merah kribo Merida amat diperhatikan. Alam Skotlandia dengan pegunungan, mata air alami, hutan rimbun sampai bukit hijau memang terasa lebih hidup dalam format 3D tetapi tidak terlalu esensial pengaruhnya. Musik latar yang menggugah juga mengalun pas mengiringi aksen Skotlandia asli Kelly McDonald dalam menyuarakan Merida yang pemberontak, sama halnya dengan aksen British aktris veteran Emma Thompson dalam menyulihkan Elinor yang over-protektif itu.
 

Brave memang lebih terkesan Disney yang simple and heartwarming dibandingkan Pixar yang complex and marvelous. Satu yang harus diakui adalah penyampaian pesan moral yang begitu mengena tentang menjadi diri sendiri tanpa harus bersikap egois. Penyesalan memang selalu datang terlambat tetapi akan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi. Kids will love the decent fairytale and adults will enjoy the predictable moment to moment entertainment until it finished. Quite strong narrative from start to end with enough giggles from magical humors along the way.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$66,700,000 in opening week of June 2012

Overall:
7.5 out of 10

THE AMAZING SPIDER-MAN : Superheroism With Multi Subtle Relationships

 
Quotes:
Peter Parker: We all have secrets: the ones we keep... and the ones that are kept from us.

Nice-to-know:
Dirilis untuk memperingati ultah Spider-Man ke-50, film ini menandakan kali pertamanya tidak ada karakter Mary-Jane Watson. Sebagai gantinya, kekasih Peter Parker yang sesungguhnya yakni Gwen Stacy pun muncul.

Cast:
Andrew Garfield
sebagai Spider-Man / Peter Parker
Emma Stone
sebagai Gwen Stacy
Rhys Ifans
sebagai The Lizard / Dr. Curt Connors
Denis Leary
sebagai Kapten Stacy
Martin Sheen
sebagai Paman Ben
Sally Field
sebagai Bibi May
Irrfan Khan
sebagai Rajit Ratha

Director:
Merupakan feature film kedua bagi
Marc Webb setelah (500) Days Of Summer (2009).

W For Words:
Orang dewasa di masa kini diyakini berangkat dari eforia sosok pahlawan laba-laba semasa kecilnya. Tak mengherankan jika mereka akan tetap mencintai franchise ini sampai kapanpun juga. Demi merangkul generasi yang lebih muda lagi, Columbia Pictures yang dahulu bekerjasama dengan Columbia TriStar dan Sony Pictures kali ini menggandeng Marvel Studios/Enterprises dan Laura Ziskin Productions untuk mengerjakan rebootnya yang berjarak sembilan tahun tersebut. Kursi sutradara pun berpindah dari Sam Raimi ke Marc Webb dengan berbagai perubahan yang fresh meski tidak signifikan.
 
 
Peter Parker hanyalah remaja biasa yang tidak populer di sekolahnya meski diam-diam mencintai gadis cerdas bernama Gwen. Di rumah, ia hidup bersama Paman Ben dan Bibi May yang amat menyayanginya meskipun masih mempertanyakan kedua orangtuanya yang menghilang secara misterius sewaktu kecil. Jawaban mulai terkuak ketika Peter memasuki Oscorp Industries dan bertemu dengan rekan kerja ayahnya dahulu, Dr.  Curt Connors yang tengah mengembangkan serum khusus demi kebaikan umat manusia. Tak diduga, Peter justru digigit laba-laba yang dalam sekejap mengubah genetiknya menjadi berkemampuan super. Petualangan barunya sebagai Spider-Man pun dimulai..

Trio penulis skrip yakni James Vanderbilt, Alvin Sargent, Steve Kloves seakan berupaya menyesuaikan diri dengan trend film remaja jaman sekarang, sebut saja Twilight saga. 
Romantika Peter dan Gwen dieksplorasi habis-habisan di paruh pertama mulai dari berpandangan, berbincang-bincang, ajakan kencan, undangan makan malam, berciuman dan sederetan “it” moments lainnya. Beruntung dinamika hubungan Peter bersama keluarganya turut hadir dalam porsi yang seimbang mulai dari Paman Ben dan Bibi May sampai kedua orangtua yang tak pernah dikenalnya. Sesuatu yang terasa “gelap” dalam versi 2002 terdahulu sedikit diperbaiki disini. 
 
 
Garfield dan Stone adalah dua pemeran utama yang sangat likeable. Garfield berhasil melepaskan diri dari bayang-bayang Maguire dimana karakter Peter di tangannya terkesan berkemauan keras dengan emosi yang terjaga selain kostum spandex ketat yang tampak lebih membumi. Stone sukses melampaui Dunst dimana karakter Gwen terbilang lebih tangguh dan cerdas dibandingkan MJ yang dramatis dan kurang beruntung itu. Chemistry keduanya sangatlah wajar dan manis, tercipta lewat pertukaran dialog menggoda ataupun bahasa tubuh canggung yang menekankan perasaan yang terjadi di antara keduanya. Senyum anda akan terkembang melihat satu-dua adegan yang saya maksud tersebut.
Sutradara Webb masih mengalami sedikit masalah dengan tempo. Satu jam pertama dihabiskan dengan dramatisasi character building yang tergolong detil, lengkap dengan sudut pandang yang variatif dan kedalaman emosi antar koneksinya. Sejam terakhir disajikan ala Hollywood blockbuster yang menjual aksi secara bombastis. Kelebihan CGI baru terlihat disini kala Spider-Man berayun bebas di antara bangunan-bangunan pencakar langit Manhattan yang mewah dan gemerlap sebelum berakhir di Oscorp Tower.  Bagian ini semakin sempurna dalam format 3D atau bahkan IMAX. Sayangnya sosok The Lizard tampak terlalu kartun, masih jauh dari kesan menggetarkan sebagai villain nomor satu.
 
 
Dengan premis yang nyaris persis dengan Spider-Man (2002), reboot ini memang lebih bersifat retelling dengan perbaikan sinematografi dan peningkatan spesial efek yang sangat kentara disana-sini. Anda boleh mengatakan studio besar Hollywood tidak kreatif atau haus keuntungan belaka tetapi jangan lupakan fakta bahwa kronik superhero ini timeless. You can see a lot of versions from time to time but still inevitably happy to walk out of cinemas in the end. This one is actually better at resembling multiple relationships among characters rather than defining superhero things himself. Yet, another sequel must be coming up with better ideas and greater responsibilities.

Durasi:

136 menit

Overall:
8 out of 10

Monday, April 16, 2012

SANUBARI JAKARTA : Kompilasi Potret Kehidupan Yang Termarjinalkan

Sanubari Jakarta


Quotes:
Reuben: Kamu tuh pertama kali suka sama siapa?
Mia: Sama.. Monyet!

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kresna Duta Foundation, Ardhanary Institute, Ford Foundation dimana screeningnya diadakan di PPHUI pada tanggal 7 April 2012.

Cast:
Gesata Stella sebagai Theresa/Bianca
Agastya Kandou sebagai Aga
Reva Marchellin
Timothy Hendry Munthe
Pevita Pearce
Miea Kusuma
Hernaz Patria
Filippo
Tata Trianti
Herfiza Novianti
Permatasari Harahap
Albert Halim
Raditya
Gia Partawinata sebagai Acel
Alviano
Haffez Ali sebagai Drajat
Dinda Kanyadewi
Dimas Hary CSP
Belvany
Ajeng Sardi
Kiki Machina
Raina
Ence Bagus
Reuben Elishama Hadju
Irfan Guchi
Arswendi Nasution
Jefan
Intan
Deddy Corbuzier
Illfie
Rangga Djoned
Ruth Pakpahan
Bemby Putuanda

W For Words:
Isu LGBT alias Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender memang tidak dapat dihindari dan akan selalu mengiringi kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia manapun juga. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut meskipun pemahaman setiap orang jelas berbeda-beda. Lola Amaria yang menggandeng beberapa lembaga dan institusi berinisiatif merangkul filmmaker-filmmaker anyar untuk terlibat dalam proyek omnibus yang keseluruhan ceritanya ditulis oleh Laila Nurazizah ini.

Film dengan banyak cerita di dalamnya, dikenal dengan istilah antologi/omnibus, marak tahun ini di bursa perfilman Indonesia. Setidaknya sampai saat ini ada Dilema dan HI5TERIA sudah tersaji di bioskop.
Lalu kini ada Sanubari Jakarta, sebuah film yang lebih banyak lagi soal pemaparan cerita. Ada 10 cerita dan 10 sutradara. Benang merahnya adalah semua cerita bertemakan bagaimana segelintir orang berusaha melawan dogma dalam menemukan jati diri mereka.

Kelebihan dari film berkonsep omnibus/antologi adalah penonton bisa mendapatkan berbagai "varian" dalam satu "racikan" tema. Jika Anda tidak suka dengan satu segmen, Anda bisa menanti segmen lain yang mungkin memenuhi selera sinema Anda.

Dan tantangan terbesar dari banyaknya film pendek dalam satu film antologi adalah bagaimana sineas memilih penempatan urutan masing-masing film agar kemudian bisa "dijahit" menjadi satu keutuhan film yang bisa dinikmati. Harus diakui masing-masing sutradara tentu akan menyajikan cita rasa berbeda di setiap segmen. Dan bila tidak jeli dalam memasang urutan dan membuat bridge yang pas di sela segmen, ketimpangan akan terasa.

Sanubari Jakarta adalah contoh film berkonsep antologi yang bisa menaklukan tantangan itu.

Sanubari Jakarta dibuka dengan kilau warna-warni gemerlap lampu kendaraan di suasana malam kota Jakarta. Dan film ini memang berwarna karena menyajikan 10 cerita yaitu, 1/2 , Malam Ini Aku Cantik, Lumba-Lumba, Terhubung, Kentang, Menunggu Warna, Pembalut, Topeng Srikandi, Untuk A dan Kotak Coklat.

Kebanyakan dari mereka menyajikan suatu cerita tentang mengenai pilihan hidup berbalut tema tentang orang-orang yang selama ini termajinalkan dan dipandang sebagai "noda" dalam masyarakat.

Ada 9 tema tentang pilihan hidup orang yang memilih orientasi seksual sebagai gay, lesbian, biseksual dan transgender di sini. Terselip satu segmen yang lebih merupakan kisah mengenai emansipasi wanita dalam Topeng Srikandi, yaitu mengenai seorang wanita yang berusaha membuktikan kesetaraan setelah dipecat dari pekerjaannya.

Kesepuluh segmen dalam Sanubari Jakarta disatukan dalam mood yang hampir sama. Pallet warna yang sendu dan lembut, seolah memposisikan film ini mengenai kisah tentang sekelompok orang yang memilih warna kehidupan yang tidak mencolok. Ya, orang-orang dalam film ini memilih jalan hidup dengan "warna" yang tidak lazim dengan orang-orang kebanyakan.

Di tengah mood yang hampir senada, terselip beberapa segmen dengan eksekusi yang beda dalam pemaparan hidup karakter-karakternya.

Segmen pembuka yang berjudul 1/2 misalnya. Segmen ini menjadi menarik karena sutradara muda potensial, Tika Pramesti, menceritakan kegamangan orientasi seksual seorang pria bernama Biyan melalui metafora kacamata 3 dimensi. Jika Anda mengamati kacamata 3 dimensi tentu akan sadar bahwa kacamata ini punya warna biru dan merah. Tika secara cerdas memakai dua warna ini untuk menggambarkan kegelisahan Biyan akan pilihan orientasi seksualnya. 1/2 disajikan dalam warna-warna pastel romantis dan sinematografi cantik. Pilihan Tika menggunakan warna tersebut memaparkan ada kerinduan dan keinginan karakter Biyan untuk menggapai angan romantis di tengah kegamangannya.


"1/2" - Sanubari Jakarta

Pallet warna serupa juga dipakai dalam segmen Lumba-Lumba dan Kotak Coklat. Dalam Lumba-Lumba, sutradara Lola Amaria memakai metafora mamalia laut cerdas itu untuk menegaskan pilihan orientasi seksual seorang karakter yang berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak bernama Adinda (Dinda Kanya Dewi).

Hal ini ditegaskan oleh sebuah artikel yang dibuka lewat Ipad mengenai lumba-lumba yang juga memiliki kecenderungan homoseksualitas dalam salah satu shot. Semakin ditegaskan oleh ujaran karakter Adinda, "Lumba-lumba itu sebenarnya hanyalah simbol untuk menjelaskan apa yang tidak bisa aku jelaskan,". Karakter Adinda juga dipaparkan mengalami masa romantis dengan karakter Anggia (Ruth Pakpahan), seorang ibu muda berpenampilan tomboy, lewat gesture dan adegan slow motion saat mereka berada di sebuah toko swalayan.

Kotak Coklat juga memaparkan sebuah kisah romantis antara seorang transgender yang berprofesi sebagai desainer bernama Miea (Miea Kusuma) dan pria bernama Reuben (Reuben Elishama Hadju). Segmen ini secara jelas menjadi film yang paling "mahal" dan cantik secara eksekusi. Hal ini bisa dilihat dari seting, warna dan juga pemain-pemain yang berupa elok. Pengalaman sutradara Sim F sebagai sutradara iklan, membuat segmen ini bermain dalam ruang bernuansa film-film romantis Thailand. Kotak Coklat memaparkan sebuah cerita yang terjadi pada kalangan atas.

Eksekusi berbeda ditampilkan dalam segmen Menunggu Warna, Pembalut dan Kentang. 3 segmen ini mendapat sentuhan komedi satire.

Menunggu Warna menjadi segmen yang paling "minimalis" dalam soal warna, di antara semua segmen yang ada di Sanubari Jakarta. Sutradara Adriyanto Dewo (juga terlibat dalam salah satu segmen omnibus HI5TERIA-red) memilih memaparkan kisahnya dalam nuansa hitam-putih dan tanpa dialog antara dua karakter utama, Adam (Albert Halim) dan Satria (Rangga Djoned).


Menunggu Warna - Sanubari Jakarta

Adam dan Satria adalah dua orang pekerja pabrik di sebuah kawasan industri di pinggiran Jakarta. Momentum emosional mereka berawal dan berakhir di sebuah lampu lalu lintas saat Satria yang mengendarai motornya menunggu lampu hijau, sementara karakter Adam berdiri di seberangnya. Pilihan menampilkan segmen ini dalam hitam putih menggambarkan konsep impian pasangan gay yang langgeng seperti warna hitam putih yang sering dideskripsikan sebagai warna abadi. Konsep hitam putih juga seolah menjadi jawaban akan pilihan judul, bahwa dua pasangan ini juga menunggu warna yang akan menghiasi kehidupan romantis mereka.

Segmen Pembalut juga berkonsep minimalis. Hanya dalam sebuah ruang hotel kecil dan memakai satu orang pemain, Gesata Stella. Aktris berbakat ini memerankan multi dimensional karakter sebagai Theresia, Bianca, Leona dan cleaning service hotel. Sutradara Billy Christian secara efektif melakukan eksplorasi karakter hanya melalui Gesata dan seorang aktris body double. Bercerita tentang pasangan lesbian yang mempertanyakan pilihan hidup untuk menikah dengan pria normal atau terus bertahan dengan pasangan lesbian mereka.

Billy Christian menggunakan pilihan seorang aktris untuk memainkan banyak karakter menegaskan pandangannya bahwa lesbian hanyalah seorang perempuan biasa. Mereka tetap menghadapi persoalan yang sama, yaitu persoalan tentang siklus biologis dan juga psikis. Pembalut menjadi simbol bahwa setiap wanita selalu membutuhkan benda ini dalam keseharian mereka. Sebuah simbol bahwa wanita (entah hetero atau homoseksual) sebenarnya sama.


Pembalut - Sanubari Jakarta

Kentang menjadi segmen yang paling komedikal dalam Sanubari Jakarta. Debut penyutradaraan editor film Aline Jusria ini menyajikan kisah tentang dua orang pasangan gay Marcel (Gia Partawinata) dan Drajat (Haffes Ali) yang sedang berusaha melepaskan hasrat rindu setelah lama tidak bersua. Namun saat berusaha bermesraan di kamar kost Drajat yang sempit, pasangan ini mendapat berbagai halangan sehingga kemesraan mereka terganggu akibat perdebatan-perdebatan yang dipicu oleh halangan-halangan itu.

Kentang menjadi debut yang sukses bagi Aline setelah tahun lalu meraih Citra untuk kategori penyunting gambar terbaik di Catatan Harian Si Boy. Segmen ini tetap disajikan dalam warna yang cenderung gelap, tapi dibalut dalam komedi satir tentang dilema Drajat, seorang gay yang belum terbuka soal orientasi seksualnya kepada publik. Kentang merupakan titik temu persinggungan pemikiran Marcel dan Drajat setelah 2 tahun membina hubungan. Sementara pasangannya, Marcel, sudah terbuka tentang orientasi seksualnya.

Segmen ini berhasil mengubah tensi ketegangan yang terjadi antara Marcel-Drajat menjadi komedi yang mengundang gelak tawa. Situasi canggung, celotehan Marcel (karakter gay yang digambarkan sebagai sosok yang lebih kemayu) serta berbagai distraksi menjadi kocak di tangan Aline. Ada berbagai dialog vulgar terlontar dari mulut karakter Marcel yang memang cablak, tanpa tedeng aling-aling.


Kentang - Sanubari Jakarta


Ada beberapa kecenderungan yang bisa dicermati dalam Sanubari Jakarta. Salah satunya adalah segmen yang memaparkan tentang kisah romansa lesbian dan transgender dipaparkan dalam warna dan mood yang sendu.

Seperti halnya Terhubung, Malam Ini Aku Cantik, Untuk A dan Kotak Coklat, serta Lumba-Lumba. Penulis tidak bisa mengetahui secara pasti alasan dibalik membuat kisah transgender dan lesbian di buat dalam mood seperti itu. Tapi bila menilik dari ke empat segmen di Sanubari Jakarta, karakter transgender dan lesbian memang mendapat sering mendapat tekanan dalam masyarakat. Hal ini diawali dari wujud mereka (sebelum atau sesudah untuk transgender) sebagai perempuan. Meski sejak tahun 1975 telah diadakan Konferensi Wanita Sedunia pertama di Mexico City, perempuan juga masih mendapat ruang apresiasi lebih terpinggirkan dalam berkarya. Atau mungkin perempuan sering dideskripsikan sebagai mahluk anggun yang melankolis.

Berbeda dengan segmen yang memaparkan kehidupan gay seperti, 1/2, Kentang atau Menunggu Warna yang terasa lebih "ringan" secara mood.

Nilai lebih dari film kompilasi berbagai kisah (omnibus, antologi atau apapun istilahnya) seperti Sanubari Jakarta adalah kita bisa menemukan bakat-bakat baru yang segar.

Dinda Kanya Dewi, misalnya. Aktris yang lekat sebagai karakter antagonis di sebuah sinetron ini, membuktikan bakatnya di penyutradaraan debutnya. Malam Ini Aku Cantik adalah contoh konkrit, betapa Dinda berhasil menyajikan suatu cerita tentang seorang waria bernama Agus (Dimas Hary CSP) yang menjajakan diri di pinggir jalan demi wujud cinta terhadap keluarga.


Malam Ini Aku Cantik - Sanubari Jakarta

Agus adalah seorang pria yang memiliki alter ego. Saat mengenakan wig dan busana wanita, ia menjadi sosok cantik. Lewat alter ego itulah Agus mencari nafkah yang kemudian ditabung. Agus tidak mencari cinta ataupun jodoh, layaknya sesama rekan warianya yang maih muda dan enerjik. Di usianya yang beranjak senja, Agus sudah mencapai fase di mana ia telah menemukan cinta sejatinya untuk keluarga. Dimas Harry berhasil menghadirkan sosok Agus yang lembut, pasrah dan beraut muka bijaksana, sekaligus elegan. Dengan cepat penonton akan menangkap bahwa Agus adalah sosok waria "istimewa". Seperti salah seorang pelanggan di segmen ini yang lebih memilih Agus ketimbang rekan-rekannya yang masih segar.

Sosok transgender yang sudah mencapai fase "kematangan" juga digambarkan dalam segmen Untuk A. Sutradara Fira Sofiana secara efektif memanfaatkan sebuah ruang untuk menuturkan sebuah cerita panjang tentang seorang perempuan yang memutuskan berubah menjadi lelaki.

Kisah disampaikan lewat narasi dan akting luar biasa aktor teater Arswendy Nasution sebagai Ari. Lewat narasi cerdas, penonton akan merasakan rangkuman emosi dan sejarah Ari saat memutuskan menjadi lelaki. Arswendy melakukan gesture sangat efektif, tanpa dia perlu mendapat sentuhan tata rias. Kepedihan, kesedihan dan juga kebahagiaan Ari lewat durasi hanya 10 menit.

Fira juga mampu menggambarkan sosok Ari sebagai karakter yang teguh dan setia memegang prinsip, serta keputusannya. Bukan hanya lewat akting brilian Arswendy, namun juga lewat pemilihan properti seperti mesin ketik tua dan telepon seluler sederhana. Karakter Ari bisa saja memakai laptop atau smartphone, tapi Ari tidak melakukannya.


Untuk A - Sanubari Jakarta

Sanubari Jakarta juga memberi kesempatan kepada penulis naskah, Laila Nurazizah, untuk menyumbangkan pemikiran tajamnya. Mahasiswi jurusan kriminologi Universitas Indonesia ini mampu membuat naskah yang cerdas, efektif dan juga relevan. Laila memang bekerjasama dengan para sutradara Sanubari Jakarta untuk membuat sebuah rangka cerita. Tapi tetap saja bakat Laila memberi sentuhan luar biasa kepada masing-masing segmen, sehingga memiliki ruh. Wajar bila kita akan banyak menyaksikan nama Laila sebagai penulis naskah film ke depannya. Alasannya sederhana, karena ia berbakat.

Film Sanubari Jakarta dibuat dengan semangat indie. Masing-masing sutradara menentukan bujet produksi dari kantung masing-masing. Logis bila kemudian didapati ketimpangan secara artistik dan filmis. Namun, setiap segmen di film ini bisa "dijahit" dengan rapi. Penempatan masing-masing segmen juga tepat, meski 3 segmen terakhir terasa lebih lamban dibanding 7 segmen awal.

Setiap segmen juga dihubungkan lewat transisi yang pas. Perpindahan setiap segmen dijembatani dengan bridge yang mengambil pemandangan kota Jakarta. Entah itu saat malam ataupun siang. Perpindahan berlangsung mulus dan membuat penonton tidak merasa "loncat" dari satu segmen ke segmen lain.


Lumba-lumba - Sanubari Jakarta


Ada beberapa kesamaan dalam setiap segmen yang juga bisa menjadi benang merah dalam Sanubari Jakarta.

Pertama adanya shot yang menampilkan album atau figura. Dalam figura atau album foto di film ini, dipajang foto keluarga. Semacam metafora bahwa setiap karakter dalam film ini mencoba keluar dari "figura" dogma yang selama ini membatasi ruang gerak mereka. Mereka berada dalam "figura" tatanan hidup yang dipandang normal, agar bisa diterima masyarakat dan mereka tidak menjadi diri sendiri. Hanya menjadi "pajangan" manis penghias meja.

Kedua, dalam beberapa segmen seperti Malam Ini Aku Cantik dan Terhubung, disebutkan kalimat klise, "jodoh di tangan Tuhan,". Ini menjelaskan bahwa "jodoh" masing-masing karakter dan itu adalah di tangan Tuhan. Hal ini lantas menimbulkan pertanyaan apakah pasangan mereka saat ini adalah jodoh? Apakah bila pasangan mereka dari kaum sejenis apakah itu tidak bisa disebut jodoh?

Akan tetapi ada juga yang perlu dicermati dalam Sanubari Jakarta. Film ini memaparkan transgender atau transeksual. Namun, ketika mereka sudah menjadi sosok yang diinginkan. Tidak terdapat kisah yang menceritakan bagaimana pergolakan seorang dengan krisis identital seksual menghadapi kesulitan saat akan melakukan operasi pergantian kelamin. Dalam beberapa kasus, fase inilah yang terberat yang dihadapi oleh seorang transgender. Ketika mereka sudah melakukan operasi, setidaknya mereka sudah menetapkan sebuah pilihan. Hal ini sayangnya terlewatkan dalam Sanubari Jakarta.

Hampir semua segmen di film ini juga memaparkan karakter dengan kemampuan ekonomi menengah atas. Sebuah level sosial di mana urusan makanan pokok bukanlah menjadi pemikiran utama. Dalam level ini toleransi terhadap apapun menjadi lebih terbuka, friksi antar pandangan memang lebih mudah terjadi di kalangan ekonomi bawah. Hal ini dikarenakan taraf pendidikan di level menengah ke atas lebih baik. Sesuatu yang digambarkan dalam segmen Malam Ini Aku Cantik, Menunggu Warna atau Kentang.


Kotak Coklat - Sanubari Jakarta


Menurut salah satu penelitian, kaum homoseksual memang menganggap kelas dan status sosial sangat penting bagi mereka (Hapsari, Trisika Putri (2007) - Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian produk pada komunitas gay di Jakarta. Perpustakaan Universitas Indonesia UI - Tesis S2).

Pemikiran tersebut timbul akibat kebutuhan untuk bersosialisasi dan merasa nyaman dengan komunitasnya sendiri dengan tidak merasa terdiskriminasi karena perbedaan orientasi seksualnya (Lugosi, Peter (2007) - Consumer participation in commercial hospitality. School of Services Management, Bournemouth University, Poole. UK)

Dengan disempilkannya cerita dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, membuat Sanubari Jakarta menyajikan perspektif beragam dalam memandang kelompok masyarakat yang termarjinalkan ini.

Penulis memandang Sanubari Jakarta adalah sebagai film yang dieksekusi dengan baik dan mampu menghibur. Terlepas dari tema yang bagi sebagian orang belum mampu menerimanya.

Penulis menyaksikan film bersama para penonton lain, yang mengeluarkan ekspresi geli dan seruan "amit-amit", saat beberapa adegan menjurus pada hal yang vulgar.

Sebuah ekspresi spontan yang bisa diartikan bahwa penolakan itu tetap ada meskipun mungkin kecil. Namun, tidak ada yang keluar dari ruang putar. Hal ini menandakan bahwa sebagai sebuah tontonan, Sanubari Jakarta membuat penonton betah untuk menantikan segmen selanjutnya. Bahkan mereka tertawa saat beberapa adegan lucu hadir.

Dan mari kita menganggap Sanubari Jakarta sebagai sebuah produk budaya yang mencoba menyajikan potret bagian kecil masyarakat kita. Sebagai suatu bentuk kegiatan berkesenian sekelompok orang yang mewujudkannya dalam sebuah film yang utuh dan menghibur.

Lupakan arogansi dan pretensi bahwa fakta dalam film ini tidak pernah terjadi, bahkan harus dibasmi. Di tengah lesunya apresiasi penikmat film Indonesia terhadap produk sendiri, anggap saja Sanubari Jakarta sebagai tempat untuk melakukan piknik visual untuk menghibur kepenatan sanubari.

Seperti yang diungkapkan dalam segmen 1/2, kita harus memandang film ini dalam kacamata 3 dimensi yang utuh. Kita tidak bisa memandang hanya dari satu frame warna. Kita harus menggunakan dua frame dalam "kacamata" berpikir kita, sehingga visualisasi dalam Sanubari Jakarta terbentuk nyata dan menyeluruh dalam pemahaman. Tidak lantas menjadi pemahaman parsial yang banal.

Dan film ini memang menghibur serta memaparkan keragaman emosi, layaknya kompilasi potret kehidupan yang termarjinalkan. Sesederhana itu saja menilai film ini.

Saya acungkan dua jempol bagi omnibus satu ini yang berani mengangkat tema sensitif. Sanubari Jakarta akan mengetuk pintu hati anda semua sewaktu melintasi babak demi babak kehidupan orang-orang yang dianggap “abnormal” oleh lingkungannya. Sebuah kenyataan yang tersimpan rapat tanpa bisa tersembunyikan di setiap sudut kota, berusaha agar tidak dihakimi norma-norma yang berlaku. Honest, witty and colorful presentation with every themes in it. Keep your mind wide open to understand its own message!

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10