Wednesday, February 12, 2014

buang resahmu

Bagaimanalah mungkin pagi tanpa embun seperti keringku tanpa sentuhanmu. 
Bolehku simpan resahmu lalu kularungkan menuju laut.
Di sana, tempat paling rahasia pada semesta. 
Aku sanggup menahannya menguap, agar tak kau ingat dalam riuh dunia.
Maka, sungai penjuru dunia mengaburkannya, meletakkan di palung perutnya. 
Lepaskan khawatirmu, karena tak ada yang sanggup mengembalikannya.
Kutawarkan cahaya paling indah sebagai penawarmu, kuendapkan selama 7 hari. 
Berdoa malaikat bersama semesta agar kau tenang.
Lalu, kusimpan dalam cawan biru kesukaanmu. 
Reguklah kala wanginya masih terasa pada suatu pagi yang masih basah. 
Dan berdirilah menatap langit.

tak ada tuhan

Tak ada Tuhan di mimbar masjid yang sering kau datangi.
Tak kau temukan pula di deretan lilin atau gema lonceng gereja.
Jangan kau kira dia berumah di vihara atau klenteng berbau dupa.
Tapi, jangan berharap Dia bersantai di pura paling indah di tepi laut.
Dia tak berumah di sana.
Mungkin saja merasa sesak
Lalu muntah di halamannya.
Ambil langkah sejenak.
Dia mendekap anak jalanan yang tadi malam menggigil tidur beralaskan kardus.
Dia ada di tangan pengemis renta yang mengadah lagi berkusta di trotoar yang kau tak peduli.
Dia bernyanyi bersama anak-anak yatim di gubuk reot tempat syukur yang tak pernah kau dengar.
Dia menguntit PSK yang menjajakan diri di gang-gang sempit ditontoni tikus busuk.
Tak ada Tuhan di rumah ibadah.
Tidak pada corong pengeras suara masjid atau kidung pujian di gereja.
Dia tak lagi ada di tasbih atau rosario.
Dia bosan dengan sebutan yang beda-beda untuknya.
Dia jerih namanya hanya dipakai politik kotor.
Dia marah pada nafsu orang yang membunuh atas namanya.
Dia teriak dan orang bodoh tetap memuja kedunguan mereka.
Jangan Tuan cari Tuhan di rumah ibadah.
Tadi malam, Dia telah pindah.

kado terindah


Hening seketika tercipta, detik seakan berjalan lambat sekali. Penantian ini bukan sehari, seminggu ataupun sebulan dua bulan. Namun sembilan bulan dengan upaya yang tiada reda. Bukan terpaksa ataupun upah duniawi, namun cintalah yang membuatnya kuat. Cinta seorang ibu, yang membopong sebuah "hadiah dari Tuhan". Kemanapun berjalan, dan kaki yang membengkak itupun dipaksanya melangkah. Hingga pada saat ini, keheningan-pun terbuncah. Dera tangis bayi, dera tangis bahagia orang-orang yang terkasih. Dan senyum bahagia sang ibu, meski menahan sakit, di sudut ruangan.


Kemarin pada tanggal 10 Februari 2014 sekitar pukul 04:30 keheningan terhenyak dengan sedikit kepanikan istri saya yang melihat air ketubannya telah pecah, kemudian kami bergegas meluncur ke rumah sakit meski belum mandi bahkan cuci muka sekalipun. Sesampainya di rumah sakit kami memasuki ruang IGD dan diterima dengan baik oleh suster jaga dan langsung memasuki ruang perawatan sementara. Suster-suster yang lainpun segera mempersiapkan alat-alat pendeteksi kelahiran sebagai bahan observasi apakah tindakan yang akan dilakukan selanjutnya sembari menunggu kehadiran dokter kami. Pukul 07:30, dokter kandungan kamipun datang dan segera melakukan diagnosa dan melakukan usg kepada istri saya, dan tanpa berbasa-basi dokter menyarankan untuk segera mengambil tindakan seksio/caesar karena air ketuban sudah menunjukkan kekeringan. 

08:34, istri saya, Desak Made Nurmartini telah melahirkan seorang bayi laki-laki di rumah sakit Omni International, Alam Sutera secara caesar/seksio, dimana awal rencana keinginan saya menyamakan dengan tanggal kelahiran saya 12 Februari tapi menurut orang tua tidak boleh berbarengan lahiran dengan ayahnya kemudian diputuskan untuk memundurkan tanggal menjadi 14 Februari. Namun waktu berkata lain dan subuh itulah menjadi saksi kebisuan dan keheningan alam akan kelahiran putra pertama kami dengan berat 3,02 kilogram dan panjang 45 centimeter, bayi yang gantengnya mirip saya (hehehe...) itu lalu diberi nama "Dewa Gede Kalyan Vijaya". Yang memiliki makna "semoga menjadi putra yang 'unggul (vijaya (sanskrit: victory)' dalam hal kesejahteraannya, ketampanannya, keberuntungannya, nasib baiknya dan kebahagiannya kelak (kalyan (sanskrit: welfare, lovely, auspicious, good fortune & happiness). Panggilannya "baby kal".



Senang rasanya mendengar semua proses berjalan dengan lancar, walaupun kelahirannya maju beberapa hari dari perkiraan dokter. Manusia mungkin bisa memprediksi, namun Tuhanlah yang menentukan. Ah yang penting semua baik baik, ibu dan anaknya sehat. Ini adalah kado terindah yang saya dapatkan, dua hari menjelang hari ulang tahun saya yang ke-39. Semoga keindahan ini juga memberi keindahan dan kebahagiaan semua orang-orang di sekitar kami yang turut merasakan dan mendoakan atas kelahiran putra pertama kami dan hari lahir saya sekaligus. Kebahagiaan yang berlipat ganda.



Oiya, ini penampakan baby Kal. Gantengnya mirip saya kan? Hehehe....

baby kal after delivered

Friday, December 6, 2013

Rumput di Halamanmu akan Hijau pada Waktunya

Pernah nggak sih ada pertanyaan ini di kepalamu “ih enak ya kayak si A, kerjaannya jalan-jalan terus” atau “duh si B  tuh lagi asik banget ya di kantor banyak dapet promosi ini itu” atau keluhan tiap malam minggu yang sering sekali keluar dari diri kita, ketika kita melihat orang lain berpasangan.

Pertanyaan-pertanyaan ini keluar karena kehidupan orang lain “kelihatannya” lebih menarik ketimbang kehidupan kita sendiri. Padahal kita tidak pernah tahu bahwa jika kita berpikir sebaliknya, jangan-jangan orang lain itu justru sebenarnya iri dengan kehidupan kita. Jangan-jangan orang lain yang kita pikir “keren” itu sebenarnya ingin bertukar posisi dengan kehidupan kita.

Saya sering sekali mendapat komentar dari orang lain seperti ini “ Wa, enak banget sih hidup lo. Kerjannya jalan jalan mulu. Dapet duit lagi!” atau “Enak banget sih hidup lo, bisa maksimalin apa yang lo punya, dan dapet hidup dari sana.”

Saya suka senyum-senyum saja jika ada yang komentar seperti itu. Karena begitulah kenyataannya. Kehidupan yang sudah lama saya bayangkan sejak saya masih di sekolah menengah pertama, semua terjadi ketika saya dewasa. Ketika masih sekolah dulu, saya memang tidak pernah membayangkan akan bekerja kantoran dalam jangka waktu yang lama. Dan saya selalu membayangkan ketika saya sudah menikah nanti, saya akan jadi Ayah sekaligus sahabat kepada anak-anak saya.

Oke, saya sekarang bersiap menjadi seorang Ayah. Tapi ketika kembali ke dunia pekerjaan dan apa yang sekarang sedang saya kerjakan, saya merenung bahwa:

“Seringkali kita iri dengan keberadaan orang lain hingga kita lupa pada hal kecil yang kita punya yang bisa dikelola untuk menjadi sesuatu yang besar suatu hari nanti.”

Saya dibesarkan dengan segala keterbatasan. Ayah dan Ibu saya bukan orangtua yang berada. Tetapi mereka membesarkan saya dengan ketiga kakak dan satu adik saya dengan fokus kepada hal-hal kecil yang kami punya. Sejak kecil Ibu membiasakan saya untuk “tampil” bersahaja dan apa adanya  di depan banyak orang. Ternyata setelah saya dewasa, saya tumbuh menjadi orang yang humble ketika ada di depan banyak orang.

Dan Ayah selalu berulang kali mengingatkan anak-anaknya untuk rajin membaca. Dan tanpa disadari, membaca inilah yang pada akahirnya membuat saya belajar banyak hal.

Dari semua yang saya bicarakan, saya hanya mau bilang bahwa: suatu saat waktumu akan datang. Bersiaplah. Karena rumput di halamanmu akan hijau tepat pada waktunya! Jangan pernah berpikir bahwa hidupmu tidak menarik. Fokus kepada hal kecil yang kamu sukai dan buatlah hidupmu untuk menjadi menarik.

Jangan pernah berpikir bahwa, bagaimana jika saya bisa meminjam hidup orang lain, tetapi berpikirlah bahwa bagaimana saya harus menjalani hidup saya sendiri dengan menarik, sehingga suatu hari nanti orang akan datang kepadamu dan bilang “boleh nggak ya, gue pinjam hidupmu sesekali!”


Friday, November 1, 2013

kesempatan. kemampuan. keadaan.

Tahu apa hubungan antara tiga kata di atas? Untuk saya, sesuatu bisa terwujud kalau tiga-tiganya berjodoh.

Kesempatan ada tapi kemampuan belum mumpuni, berarti tandanya kita harus meningkatkan lagi kemampuan diri. Belajar dan belajar lagi.

Kemampuan ada tapi kesempatan belum datang, berarti tandanya kita harus bersabar. Kalau memang rezeki, kesempatan akan datang lagi.

Kadang-kadang kesempatan dan kemampuan ada, tapi ternyata keadaan belum mengizinkan. Bisa jadi karena kita ada pekerjaan lain yang harus dikerjakan. Berarti komitmen dan integritas kita sedang diuji.

Kesempatan kadang datang bertubi-tubi tanpa kita sangka. Senang bukan kepalang. Namun juga mengingatkan diri bahwa ketika kesempatan hadir, ada tanggung jawab lebih yang harus diambil. Mengatur diri lebih baik menjadi mutlak.

Namanya juga kesempatan. Berarti ada amanah tambahan yang harus dijaga dan dituntaskan sebaik-baiknya.

Cukup sampai sini?

Tidak. Ada yang seringkali terabaikan. Badan. Raga. Satu-satunya yang setia menjadi tempat jiwa dan pikiran untuk berkarya. Tanpa raga yang terjaga, kesempatan dan kemampuan akan dihilangkan oleh keadaan sakit.


menunggu waktu


ada seulas senyum yang masih bersembunyi
menunggu waktu untuk dapat berjingkat
lalu mengendapendap hingga sampai di depan wajah

ada sebelah genggam yang masih malumalu
menunggu waktu untuk dapat berkenalan
hingga nanti bisa berjalan dengan sebelah yang lain

ada sehangat peluk yang masih tertidur
menunggu waktu untuk dapat menyelimuti hati
dan menjadi rumah tempat hati ini pulang dengan bahagia

Friday, October 18, 2013

aku melihat.

kekosongan adalah keberadaan yang mutlak.

ada saatnya aku menemukan sesuatu, pun ada saatnya sesuatu yang menemukan aku.

hingga suatu hari, aku berdiri di atas dasar.

aku menunduk.

kulihat ada puncak-puncak yang tak disyukuri.

kemudian aku menoleh sedikit.

kulihat ada berbagai keterkesanan yang menyesatkan.

lalu aku menoleh lagi.

kulihat ada keterbatasan yang hebat, buah-buah dari kamuflase.

baiklah, aku diam saja.

ini sopan santunku pada bumi yang bergerak.

tetapi diam kan bukan berarti buta.

aku tetap melihat.